Sekolah Gratis dengan Buku Fotokopian

Kemarin Nanin (kelas 4 SDN Ngadirejo 4, Kartasura, Sukoharjo) minta uang. Katanya untuk fotokopi buku Bahasa Inggris.

Iseng saya tanya, “Lho, kenapa harus difotokopi?”

“Bukunya cuma ada satu, yang mau pakai satu kelas, jadi Bu Guru menyuruh semua siswa kelas empat untuk fotokopi bergantian”, jawab Nanin.

“Oooooo…”  sambil merogoh uang di saku. Ya, ya, ya. lima belas ribu…

enjoy-your-english

Beruntung, peristiwa itu terjadi pasca Pilpres, di saat iklan SEKOLAH GRATIS sudah tak dibutuhkan untuk muncul di layar televisi. (eh, kemana hilangnya iklan itu ya?)

Beruntung lagi peristiwa itu terjadi pada bulan puasa. Saya urung untuk mengumpat sejadi-jadinya.Bukan soal beli bukunya, tapi soal jatah buku yang cuma satu itu… Lha kayak gini kok gembar-gembornya SEKOLAH GRATIS BISA… haks!…

SEKOLAH GRATIS tidak akan BISA tanpa niat baik dari pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya, bukannya malah  berbahasa manis mengelabui rakyat, mengesankan dengan kata-kata indah yang seolah-olah menjanjikan BISA… Yeach… Sepertinya, yang terjadi sekarang lebih banyak pejabat yang memikirkan udelnya saja. Hopomaneh kuwi slogan Sekolah Gratis 2009 Pasti Bisa… wudele bodong!!!

Apa pendapat anda???

(buat para Guru SDN Ngadirejo 4, Kartasura; bersama ini saya sampaikan rasa salut, hormat, dan lain-lain… –pokoknya worship dah–, panjenengan semua secara sadar demi kemajuan belajar murid-murid, rela mengabaikan tulisan [all right reserved bla…bla…bla…] yang tertera pada buku itu)

.::kapan ya ada buku pelajaran sekolah yang bebas difoto-kopi???::..

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

54 thoughts on “Sekolah Gratis dengan Buku Fotokopian

  1. sekolah gratis adalah BOHONG besar.
    hasil perhitungan saya di magelang kota dan kab menunujukkan bahwa dana BOS (yg katanya unt sekolah gratis itu) hanya mampu menutup biaya tdk lebih dari 30% saja dari unit cost persiswa SMP yang mencapai 2,8 juta.
    ditambah lagi bahwa setelah ada dana BOS justru aada kenaikan jenis pungutan di sekolah. sebelum ada BOS “hanya” 16 jenis setelah ada BOS jadi 25 jenis.
    .-= sedulur ciwir menampilkan tulisan..Install Google Earth di Ubuntu =-.

  2. Sekolah gratis itu kalo bisa minimal spp gratis, uang gedung gratis, buku paket gratis,lks gratis,,,jadi murid tinggal keluarin duit buat beli buku catatan dan uang transpot saja..

    • @dasir, ya ku fikir awalnya juga gitu….. tapi setelah cari informasi karena keponakan aku juga baru masuk sekolah di SDN 2 Tambun… walah.. yang gratis cuma SPP dan gedung… arena dana operasionalnya cuma buat bayar gedung aja.. hiks… Mo gratis kok setengah-setengah (doh)

  3. Kasihan lho para guru, dia dituduh macam-macam
    yang salah yaa iklannya
    terus kita percaya iklan juga salah
    lha wong iklannya ada tulisan *

    * syarat dan ketentuan berlaku
    gratis tidak termasuk buku (buku silahkan di download di …..
    .-= sedulur big sugeng menampilkan tulisan..Utang oh utang =-.

  4. Sekolah gratis itu baru sebatas mimpi.Selama negri ini masih dipimpin oleh orang orang yg mementingkan perutnya sendiri

  5. Halah…banyak iklan sekolah gratis, tapi tetep aja bayar. Cuma janji manis, tapi kenyataannya pahit. Yang jadi sasaran guru2.

    • betul mas Dhodie, soalnya kalau SDM itu panennya luama, kalo bikin infrastuktur tak penting itu malah kelihatan megah dan maju… panennya juga cepet… (doh)

  6. Ini copyright nya belum dibeli pemerintah jadi nda ada versi BSE nya
    … kabar BSE gimana ya… apa kaya buku paket jaman dulu yang tiap sekolah negeri ada tapi nda pernah dipakai untuk ngajar ?

    lha kok jadi Nyiapin Dana buat usaha fotocopy…….
    .-= sedulur Eltoro menampilkan tulisan..Petunjuk, kenapa tidak dibaca ? =-.

  7. sebagai seorang guru dan juga TU di sebuah sekolah dasar, saya juga sangat resah dengan iklan tersebut. iklan hanya hanya manis di depan pahit di belakang. memang benar yang di gratiskan hanya uang spp saja dan untuk buku sebagian di tanggung oleh dan BOS. tapi teringat bulan lalu ketika mengurus laporan pertanggung jawaban dan BOS selama 3 bulan, rasa marahpun ingin saya ungkapkan. bagaimana tidak dana BOS yang oleh penelitian mas ciwir dikatakan masih kurang untuk seluruh murid di negeri ini, harus di potong oleh atasan yang potongannya lumayan besar. Dan lebih parahnya lagi dana potongan yang diambil oleh atasan (diknas kec/kab) harus kita buatkan nota fiktif dan seolah-olah sekolah yang memakainya. sehingga ketika laporan ke pusat seolah-olah dana tealh terpakai dengan sempurna. padahal kenyataannya. bagaimana nasib bangsa kedapan jika atasan para guru berbuat seperti itu? (idiot) *asli pak pengen misuh-misuh wae kelingan laporan penggunaan BOS kemaren*
    .-= sedulur dafhy menampilkan tulisan..Ramahnya Indonesiaku =-.

  8. Itulah pak keadaannya bangsa ini, misih penuh dengan slogan dhoang, sementara wudel mereka misih bodong ya tetep slogan ria doang mainnya. (doh) Tidak hanya di SD pak, di SMP pun juga bejitu (doh)(doh)(doh) .-= sedulur Wandi thok menampilkan tulisan..Serangan Fajar =-.

  9. Kalau ada kemauan sih sebenarnya bisa kok. Bukan salah pemerintah pusat semata sebenarnya. Karena untuk bisa mensukseskan sekolah gratis harus didukung oleh pemerintah daerah juga. Apalagi pengadaan buku juga bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Ide terbaik mungkin memberi pinjaman buku sehingga bisa dipakai oleh adik2 kelasnya.

    Tapi semua kembali berpulang pada sikap kita. Selama kita pesimis dan mencari-cari ini salah siapa itu salah siapa, ya jangan pernah berharap sekolah gratis bisa terwujud.
    .-= sedulur Lutvi Avandi menampilkan tulisan..Ganyang Malaysia? =-.

  10. sekolah gratis ala pemerintah itu mirip iklan provider selular….GRATIS…..nya gede banget….tapi (ada tapinya loch) banyak banget persyaratannya…..termasuk biaya dan sebagainya… makanya pilih Telkomsel (loh… kok iklan..?? hehehehe :-p .-= sedulur rangga aditya menampilkan tulisan..Minang Terguncang =-.

  11. sungguh mengharukan, mas andy. dari sisi etika, foto kopi buku teks memang tidak diperbolehkan, tapi demi idealisme, copi pun bisa digunakan, toh bukan utk dikomersilkan. ini juga bukan semata2 salah sang guru, melainkan sistem perbukuan di dunia pendidikan yang selama ini masih amburadul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *