Selera Makan dan Minum

//Ini lanjutan dari tulisan sebelumnya… Yeach… Kalau ngomong soal selera, tentunya paling pas ya soal makan dan minum.

Pada dasarnya makan dan minum itu hanya untuk mencukupi kebutuhan akan zat-zat yang dibutuhkan agar tetap bertahan hidup. Lebih sederhana lagi, makan ya untuk menuntaskan rasa lapar, sedangkan minum ya untuk menuntaskan rasa haus. Rasa itu tentunya sudah diatur oleh otak yang otomatis memberi “warning” ketika tubuh membutuhkan. Akan tetapi, karena manusia itu dikaruniai akal dan nafsu, soal makan dan minum pun tidak semata-mata untuk menghilangkan lapar dan haus. Beraneka macam makanan dan minuman dibuat oleh manusia sehingga ketika dimakan dan diminum pun terasa kenikmatannya. Dan aneka olahan makan dan minum pun dibuat menurut selera.

Soal minuman, rupanya manusia tidak puas hanya dengan air saja. Air pun sekarang pilih-pilih, bisa yang biasa saja, bermineral, beroksigen, dan lain sebagainya. Ada yang bersumber dari hewan misalnya susu dan madu. Ada yang bersumber dari tumbuhan misalnya nira, air kelapa, sari buah, dan lain sebagainya. Ada yang diambil karena aromanya ~biasa disebut minuman aromatik~ misalnya kopi, teh, coklat, vanila, dan lain sebagainya.

Masih kurang memenuhi selera, minuman baik bersumber dari hewani maupun nabati banyak juga yang diolah lebih lanjut. Susu menjadi yogurt, nira menjadi tuak, kopi dan teh di-blending beraneka jenis dan rasa, ada juga yang dikarbonasi. Kadang satu jenis minuman saja tidak cukup sehingga dicampur misalnya menjadi kopi susu, lemon tea, dan lain sebagainya.

Makanan pun demikian. Beraneka makanan baik yang hewani maupun nabati dibuat manusia. Diolah dengan aneka cara dan aneka bumbu sehingga menjadi lezat saat dinikmatinya.

Seringkali akhirnya makanan dan minuman tidak semata-mata berdasar kebutuhan saja. Selera makan dan minum bisa berubah karena pengaruh iklan. Tapi, kalau banyak hal yang ada di iklan dituruti, rasa-rasanya justru malah tidak sehat. Misalnya, setiap hari harus minum minuman ber-ion, ditambah agar-agar instan yang berserat tinggi, plus minuman energi. Jadinya malah aneh.

Walaupun pada awalnya selera dipengaruhi budaya lokal dimana sejak kecil sudah terbiasa dengan aneka minuman yang dicecapkan dan aneka makanan yang di-dublag-kan ke mulut kita, hal lain yang mempengaruhi perubahan selerase lain iklan adalah prestise. Bagi mulut saya, pecel tetap lebih membangkitkan selera makan dibanding spaghetti pasta. Ayam goreng Kalasan lebih enak dibandingkan fried chicken ala Amrik. Nasi goreng tetap lebih nikmat dibandingkan pizza. Mendoan juga kering tempe yang ber-petai dan ber-udang jauh lebih lezat dibanding donat atau sushi. Minum kopi pun lebih terasa nikmat bila menggongseng sendiri atau kalau tidak sempat cukup di warung kopi atau HIK, tak perlu ke kedai kopi yang mahal yang rasa kopinya seringkali malah tidak cocok.

Namun, di jaman sekarang dimana asimilasi dan intrusi budaya merupakan hal yang biasa, kadang agak aneh ketika aneka makanan dan minuman dari luar budaya kita dianggap lebih prestise dibandingkan apa yang kita punya yang seringkali justru membuat orang luar tertarik.

Rupanya tidak hanya soal wilayah, bangsa, dan perekonomian yang bisa dijajah. Lidah pun bisa dijajah… :-D

//Kalau soal makanan dan minuman, saya tidak begitu peduli dengan rasa. Yang penting adalah kandungan gizinya. Begitupun, saya belum terlalu gila untuk mencampur segelas susu dengan nasi, ayam goreng, sayuran dan buah-buahan kemudian memblendernya menjadi satu adonan dan memasukkan ke mulut saya menggunakan corong… :-p

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

29 thoughts on “Selera Makan dan Minum

  1. Aku udah mencoba ngonsumsi makanan -yang kata ahlinya- bergizi tapi tetep aja kurus begini.
    Bagaimanapun juga selera makananku jatuh pada tempe goreng plus sambel pedes lombok mentah. Joss gandoss..

  2. Walah pak,
    Kalau semua diblender aduh… enek….
    Kalau saya jelas lebih suka masakan tradisional, karena bagaimanapun sudah dari kecil kita makan begitu. Jadi meskipun sesekali (or dua tiga kali) makan steak or fast food misalnya, ya cuma sekali2 saja, karena gak mungkin setiap hari. Perut pasti nolak karena gak biasa…

  3. Pingback: Bencana Online | KECaKOT

  4. Penulis iki asline wong ndeso opo kota leh? Kok mudeng legen {bahasane nira kanggo wong pati} karo pecel… Iku kabeh makanan kelangenanku bos…

  5. Pingback: Blogger Kendal | Bukan Aneka Berita

  6. Pingback: Nikmat | KECaKOT

  7. Pingback: Rasa | KECaKOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *