Sepeda

Banyak orang biasanya menggunakan akhir pekan untuk kegiatan keluarga. Tentu saja itu buat keluarga-keluarga yang mempunyai kegiatan mingguan rutin. Buat saya yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan rutin ini sebetulnya setiap hari sama saja. Bahkan akhir pekan (Sabtu-Minggu) justru banyak kegiatan apalagi semenjak saya mengembangkan kembali Internet For Kids. Begitupun, sesekali saya menyempatkan diri untuk rekreasi walaupun tidak mesti dengan bepergian ke tempat wisata.

Salah satu rekreasi yang suka saya lakukan adalah bersepeda. Anak saya juga suka sepeda, bahkan pernah bersepeda bersama kawan-kawannya Solo-Yogya PP. Saya sendiri sekarang paling-paling hanya berkeliling kampung saja.

Jaman dulu sepeda semata-mata digunakan untuk alat transportasi. Karena kecepatannya yang relatif rendah dan bahan bakarnya menggunakan makanan untuk orang yang menggenjotnya, sehingga cukup melelahkan, orang pun menambahkan mesin pada sepeda. Ini merupakan cikal sepeda motor yang berkembang sampai sekarang ini.

gambar dari mimpipribumi.wordpress.com

Kembali ke sepeda onthel… Di jaman sekarang, sepeda mengalami perkembangan tidak hanya untuk transportasi namun juga untuk olah raga, rekreasi, bahkan ada yang semata-mata untuk koleksi. Di era penuh polusi dan kemacetan terutama di kota-kota besar, juga tumbuh kecenderungan untuk kembali menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi. Ini lazim disebut bike to work. Tentu saja ini dilakukan oleh golongan menengah dan golongan mapan, bukan oleh pedagang sayuran yang memang sehari-hari menggunakan sepeda berkeranjang kanan-kiri untuk bekerja.

Nah, salah satu jenis sepeda yang cukup populer akhir-akhir ini adalah sepeda fixie.

gambar dari Facebook

Ciri sepeda fixie yang tidak bisa ditinggalkan adalah minimalis dan menggunakan single gear (satu rasio kecepatan, bukan multi gear seperti sepeda balap atau MTB). Ciri lain yang masih ditoleransi misalnya penggunaan fixed gear (door trap) yang dengan alasan keamanan banyak yang mengganti dengan terpedo sehingga bisa di-rem dengan menggenjot pedal ke belakang. Bisa jadi, istilah sepeda fixie bersumber dari kata fixed yang bisa diartikan sebagai fixed gear atau fixed ratio.

Pada sepeda fixie, garpu atau fork lazimnya lurus dengan sudut rake yang kecil sehingga lincah dikendarai, namun banyak juga yang menggunakan garpu lengkung dengan sudut rake normal.

gambar dari Wikipedia

Sepeda fixie juga harus ringan agar gampang diangkat sewaktu melewati rintangan pada saat bersepeda. Beberapa kelompok penyuka sepeda fixie yang saya temui bahkan ada yang mensyaratkan sepeda anggotanya tidak boleh lebih dari 11kg. Banyak pula yang saya temui berat sepeda hanya sekitar 6kg lebih sedikit. Tentu saja untuk membuat sepeda yang ringan seperti itu membutuhkan biaya yang lumayan karena harga rangka yang bagus dan ringan tidaklah murah.

gambar dari Facebook

Begitupun, sembarang sepeda pun sebetulnya bisa di-fixie-kan. Bisa berbasis sepeda mini, sepeda jengki, MTB, sepeda balap, dan lain sebagainya.

gambar dari Facebook

Bila menerawang kenangan lebih dari 25 tahun yang lalu semasa saya usia SMP, sepeda fixie sebetulnya bukan barang baru. Dulu saya pernah suka dengan sepeda minimalis yang menggunakan fixed gear. Waktu itu sedang musim kelompok atau geng sepeda yang suka berarak-arakan bersepeda sambil mengangkat roda depannya (wheelie). Yang bisa ber-wheelie dengan jarak paling jauh dianggap paling jagoan. Penggunaan fixed gear sangat berguna untuk mengendalikan sepeda pada waktu ber-wheelie ria. Sayangnya, ~sumpah~ saya termasuk paling embek kalau bermain sepeda seperti itu.

Beberapa waktu setelah masa itu, tren sepeda fixed gear pun berakhir, digantikan sepeda BMX, kemudian MTB (dulu di awal kemunculan MTB, yang paling terkenal adalah Sepeda Federal), dan lain sebagainya. Sekarang dapat dikatakan tidak ada tren khusus soal sepeda karena berbagai jenis sepeda pun banyak peminatnya mulai dari folding bike atau sepeda lipat (seli) yang gampang dibawa-bawa sampai sepeda kuno yang hanya untuk koleksi saja.

Tak mau ketinggalan jaman saya juga ikut menyukai salah satu jenis sepeda yaitu sepeda fixie. Namun, bukannya merakit sepeda yang mahal, saya malah membuatnya dari sepeda bekas. Berikut spesifikasinya: rangka sakamoto th 1995 (bekas sepeda rumah sakit), roda belakang pakai rem terpedo yg ngeremnya digenjot ke belakang (alasan keamanan), palek & ruji dari wimcycle, ban goodyear, setang union, sadel united…. Gado-gado dan murah meriah, namun sudah cukup fixie. Sayang sekali saya belum bisa menampilkan gambarnya di sini (selain tidak punya peralatan petik gambar yang memadai juga cukup memalukan bila disandingkan dengan gambar-gambar fixie yang bagus-bagus di atas). :-D

Sedulur suka sepeda jenis apa?

*// Gambar yang diambil dari Facebook adalah koleksi gambar teman saya SMA, seorang penyuka sepeda fixie yang sekarang tinggal di Jakarta. Pada gambar terakhir bahkan teman saya menuliskan namanya di rangka sepeda fixie kren itu.


Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

37 thoughts on “Sepeda

  1. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Saya adanya sepeda mini sama sepeda jengki. Itupun sekarang jarang memakainya kecuali untuk transportasiu jarak dekat semisal mau belanja ke warung…
    Padahal dulunya masih sempat jalan-jalan pakai sepeda entah dua minggu atau sebulan sekali.

  2. Laju sepeda kumbang dijalan berlubang , selalu begitu dari dulu waktu jaman jepang ,,,

    hehehe , numpang komen aja pak andy …

  3. Kalau yang door trap kok kalau di turunan repot banget, muter terus. Saya pingin sepeda onta yang pakai palang, belnya pakai bel dokar (wah seru, catnya biarkan aslinya)

  4. Sebenernya saya auka kang sama seowda fixie, mubgkin karena simple dan warna-warni. Namun saya kadung jatuh cinta sama MTB kang. alasannya sih kebih nyaman dikendarai aetiap hari… Hehe

  5. Saya lebih suka MTB. daRi sd sampe sekarang masih pake MTB yg ada gearnya. Gak tau seneng aja pindah gigi, turun naik. Serasa naek motor hehe. Ditunggu potonya. *bukannya hape ada potonya mas?

  6. MTB saja kang.. karena bisa di pakai di segala medan..karena fixie beroda sangat kecil resiko tergelincir juga lebih besar… :D walaupun fixie lagi ngetrend saya tetep cari amannya saja… hihihi

  7. Saya pake sepeda untuk olah raga. Tapi sekarang udah agak jarang.
    Niatnya sih pengen ngecilin perut.
    Tapi ternyata setiap habis sepedaan malah lapar.
    Al hasil bukannya kecil malah tambah bengkak deh perutnya ;)

  8. ah ternyata saya cukup ndeso… baru tahu ini tentang sepeda fixie, kalau jaman saya SMA pakai sepeda balap yang multi gear, lumayanlah bisa ngejar truck gandeng yang kebanyakan muatan…

  9. sepedaku jengki ae. mbiyen tuku nganggo sangu bodo, tapi saiki jarang enek sing nggewe. lha ape tak gowo neng kalimantan dalane munggah medun gunung, ndilalah napase gak kelar nututi, dadine saiki nandi nandi numoak angkot wae… :)

  10. Sepeda gunung punyaku kemarin ditawar 1 jt pak,.. Tapi ya eman banget,karena hanya itu temanku untuk keliling desa dan buat olahraga… {alasane wong sing mok nduwe sepeda onthel hi hi hi}

  11. Sepeda apapun saya suka asal enak dikendara Lebih asyik kalau gear sepeda dibuat ganda jadi bisa lebih leluasa berkendara….. Hampir tiap pagi saya bersepeda +/- 15 km rata-rata untuk menjaga kesehatan raga…..

  12. mending buat saja sepeda dijadikan fixie fixie-an..drpd beli mahal2 yang akhirnya trennya akan punah seiring jalannya waktu..beli rangka dr tukang besi tua, cr komponen juga dari sana kecuali sadel,ban,ruji .stang asal aj yg penting simple bisa dr stang sepeda motor bekas.paling mantap pake rangka sepeda kebo saya beli cuma 70rb di tukang besi tua..pelek dan stang juga dapet sana cuma 25rb..yang penting ikut tren aja deh..hhehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *