Musim Siwalan

Musim kemarau telah tiba… Saatnya musim siwalan. Ops, siwalan, sebagaimana umumnya palem-paleman lainnya sebetulnya tidak kenal musim. Memang sih, ada masa-masa produksinya menurun, tapi pada dasarnya tetap bisa berbuah sepanjang musim.

Umph… mungkin ada yang belum kenal sama siwalan?

Siwalan (juga dikenal dengan nama pohon lontar atau tal) adalah sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di banyak daerah, pohon ini juga dikenal dengan nama-nama yang mirip seperti lonta (Min.), ental (Sd., Jw., Bal.), taal (Md.), dun tal (Sas.), jun tal (Sumbawa), tala (Sulsel), lontara (Toraja), lontoir (Ambon). Juga manggita, manggitu (Sumba) dan tua (Timor).
Pohon palma yang kokoh kuat, berbatang tunggal dengan tinggi 15-30 m dan diameter batang sekitar 60 cm. Sendiri atau kebanyakan berkelompok, berdekat-dekatan.
Daun-daun besar, terkumpul di ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Helaian daun serupa kipas bundar, berdiameter hingga 1,5 m, bercangap sampai berbagi menjari; dengan taju anak daun selebar 5-7 cm, sisi bawahnya keputihan oleh karena lapisan lilin. Tangkai daun mencapai panjang 1 m, dengan pelepah yang lebar dan hitam di bagian atasnya; sisi tangkai dengan deretan duri yang berujung dua.
Karangan bunga dalam tongkol, 20-30 cm dengan tangkai sekitar 50 cm. Buah-buah bergerombol dalam tandan, hingga sekitar 20 butir, bulat peluru berdiameter 7-20 cm, hitam kecoklatan kulitnya dan kuning daging buahnya bila tua. Berbiji tiga butir dengan tempurung yang tebal dan keras.
[wikipedia]

Musim siwalan yang saya maksud di sini adalah musim orang berjualan siwalan muda (degan siwalan). Hanya ada air secucupan di dalam buah siwalan muda, namun dagingnya yang kenyal selalu mengundang selera. Apalagi bila dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam es campur… Glllcgck… Sueger bukan main.

Nah, di musim ini, penjual siwalan gampang ditemui di kota-kota terutama di pantura.  Di beberapa  daerah termasuk di Tuban, bahkan selain siwalan muda, dijajakan pula nira (legen) hasil sadapan pohon Siwalan yang sudah difermentasi menjadi minuman (keras) yang dikenal dengan sebutan tuak atau toak. Saya bukan pengonsumsi itu. Saya pengonsumsi siwalan muda atau degan siwalan saja.

Hampir setiap musim siwalan, saya menyempatkan diri membeli beberapa butir. Anakanak juga ibunya anak-anak sangat menyukainya. Seringkali buah siwalan muda dimakan begitu saja. Sering pula dicampur dengan es buah atau dicampur dengan es kelapa muda.

Sedulur ada yang suka siwalan???

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

28 thoughts on “Musim Siwalan

  1. waahhh bakalan banyak godaaan nih di bulan puasa dengan referensi postingan yang bikin clegukan ini.
    apa lagi pas mbacanya jam 12 siang panas-panas… kayane wuuenak kalo minum es Siwalan..
    .-= omagus´s last blog ..Alexa nglonjak..! =-.

  2. dulu waktu smp dijakarta 1 siwalan 500.. mentok bisa beli cuma dua dari uang jajan..
    pas SMU di Tuban 1000 dapat seplastik isi 10..
    emang enak siwalan…
    lontar juga enak…
    legen apalagi….
    cuma yg heran sama tuak… kok pada suka padahal baunya kaya comberan. he.3x.
    .-= indra´s last blog ..gak pakai dukun =-.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *