Solo Berseri: Garis Jingga

Sudah seminggu ini setiap kali saya lewat jalan Slamet Riyadi Solo –untuk pergi dan pulang kerja-, saya melihat garis jingga marka jalan. Sebelumnya saya jarang sekali melihat marka berwarna jingga. Biasanya putih –kebanyakan marka jalan memang berwarna putih-, dan  sesekali ada yang kuning –sering saya lihat di jalan bebas hambatan-. Ternyata marka jingga itu dimaksudkan sebagai batas antara jalan raya dengan jalan kereta api.

Maklumlah, Kota Solo yang unik ini barangkali tinggal satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki rel kereta api aktif yang berdampingan dengan jalan utama kota. Bahkan, sejak beberapa bulan ini rel kereta api di tengah kota itu dimanfaatkan untuk Kereta Wisata dengan Lokomotif Uap bernama Sepur Kluthuk Jaladara, yang menjadi kota kedua setelah Ambarawa yang mengoperasikan Kereta Uap untuk Wisata.

Dalam urusan berlalu-lintas, ~saya sangat menyayangkan~ perilaku berkendara wong Solo kebanyakan –menurut sayatidak tertib. (nottalking) Sudah terlalu sering saya –pemakai jalan yang taat aturan ini-, melihat ketidak-tertiban wong Solo dalam berlalu-lintas.  Rasanya tidak terhitung saya melihat pelanggaran marka, pelanggaran rambu, pelanggaran kelengkapan kendaraan, dan yang paling sering saya lihat di lampu bangjo, wong Solo sangat suka sekali tancap gas di saat lampu  lalin menyala kuning sebelum hijau. Lebih menyebalkan bilamana kurang 5 detik menuju hijau, para pengendara di barisan belakang sudah ribut membunyikan klakson. Dan selalu saja ada wong Solo yang malahan tancap gas bukannya ngerem ketika lampu hijau berubah kuning sebelum menjadi merah.

Di Solo arti warna lampu lalu lintas adalah; hijau berarti boleh jalan, merah berarti berhenti, dan kuning berarti jalan cepat sekali… :-D

Mungkin itu yang membuat pemerintah setempat membuat garis jingga yang tentu saja lebih jelas dan tegas dibandingkan marka batas jalan yang berwarna putih atau kuning. Harap dimaklumi, kereta api adalah salah satu kendaraan yang membutuhkan pengereman dalam jarak yang cukup panjang, sehingga bilamana ada sesuatu menghalangi di depannya tidak bisa spontan mengurangi kecepatan.

Bagaimana dengan perilaku pengguna jalan di kota sedulur??

gambar diambil menggunakan kamera ponsel pada 15/12/2009 dan 19/12/2009 di jalan slamet riyadi solo

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

35 thoughts on “Solo Berseri: Garis Jingga

    • Kalo di Kendal memang belum pernah saya temui garis kuning itu pak, apalagi di Boja. Tapi ngom-ngom njenengan kok yo pas dapetnya pic pas ada KA jadulnya itu liwat to pak? Itu jalan KA kota yang menyilang jalan Slamet R di sekitar Brengosan sering terjadi kecilakaan lho pak. Aku pernah hampir terpeleset je. :D .-= sedulur Wandi thok menampilkan tulisan..Musim duren telah tiba =-.

  1. Kalo Depok lumayan tertib… yang ngga nahan angkotnya, ampuuuunnn…
    Kalo Jogja mungkin kang andy dah tau, adem ayem tentrem gemah ripah loh jinawi :-D
    Kalo Bogor, mmm… peraturannya kurang ketat, boncengers (pembonceng) sepeda motor ngga pake helm itu wajar dan ngga ditilang, padahal kalo kecelakaan tau sendiri, seringnya yang parah yang bonceng (doh)

    Jadi pengen maen ke solo bawa keponakan2, buat naek sepur itu
    .-= sedulur andri menampilkan tulisan..Pemecahan 2 Rekor Muri di Depok =-.

    • murah kok kang! cuma seratus ribu untuk perjalanan sejauh 5km… maklum kereta uap, biaya operasionalnya cukup tinggi… hihihi…

  2. kalau saya cuma mau menggaris bawahi tulisan jenengan yang “Tidak Tertib”, wah memang benar mas ucapan itu..saya sampai heran bin heran apalagi pengendara yang menggunakan sepeda motor..(bikin sebel), rasane piye yo..pingin misuhi tapi yo anake wong hehehehe

  3. (LOL) setali tiga uang mas (tongue) di bekasi malah lebih edan. Enggak pake helm di depan polisi cuek beybeh! (woot) anehnya (atau asiknya? (hehe) ) polisi diem aja. Enggak ditangkep gitu… Khan lumayan “proyek” (lmao) tapi polisi disini baik2 kayaknya… Wekekek…

    Kereta uap yah?… Mmm (thinking) terakhir nyoba naik pas sd… Busyet apa kabarnya tuh si kereta tua?…

  4. jebul jingga kuwi oranye toch???

    “Di Solo arti warna lampu lalu lintas adalah; hijau berarti boleh jalan, merah berarti berhenti, dan kuning berarti jalan cepat sekali…”
    tak kiro nang Bandung thok sing koyo ngono…
    bul nang Solo podo wae… (lmao)

  5. Kayaknya mirip jg dengan di Medan mas, di Medan jg pengendara suka sembrono dan serampangan. Begitu lampu kuning malah tancap gas, bukannya pelan-2.
    Nah klo di Jkt, lampu merah masih 5 detik lagi, eh motor2 udah curi2 jalan ke depan. Apalagi klo misalnya dari arah seberang tdk ada kendaraan, langsung aja main nyelonong.
    .-= sedulur zee menampilkan tulisan..Wiken ke Taman Safari Indonesia =-.

    • saiki aku kerjo proyek mas Is! waktu siang habis di tempat kerja, nggak ada listrik, nggak ada akses internet.. pulang malam sudah capek buangets… nggih sepurane wae… blogwalking menjadi barang mewah sekarang ini….
      sukses selalu!

  6. “Di Solo arti warna lampu lalu lintas adalah; hijau berarti boleh jalan, merah berarti berhenti, dan kuning berarti jalan cepat sekali…”

    kalo saya mah, ketiga warna itu artinya “CEPAT” semua..

    hijau: cepat keburu merah..
    merah(sedikit): cepat, mumpung baru merah…
    kuning: cepat, keburu merah juga…
    .-= sedulur gusmel menampilkan tulisan..Pentas Teater: SHITDOWN SETUP oleh Teater Gadhang FE UNS =-.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *