Orang Semarang terkenal gertak semarangan-nya, alias suka nggertak dan omong besar (saya ndak tahu ini benar atau salah atau cuma mitos). Tapi, bila ketemu orang Semarang dan digertak, cobalah ganti digertak. Kalau ngeper, artinya ya cuma nggertak, kalau balik nggertak lagi, harap hati-hati… jangan-jangan yang digertak benar-benar punya andalan, atau bisa jadi punya penyakit greget bisu… Wah… bahaya tuh!
Kakekane… piye jal ki??
Orang Solo lain lagi. Relatif kalem dan lebih sopan, seolah memang punya unggah-ungguh yang tinggi. Tapi jangan salah… Soal berlalu lintas, orang Solo pun nggak kalah nggasruh… Nyuwun sewu, mangga mirsani gambar berikut ini dengan seksama:
Sudah tahu verboden ya tetap saja dilanggar. Saking seringnya dilanggar sampai ada dua rambu lho… Nggak ada pak polisi sih!… Kalau yang ngelanggar sepeda onthel sih masih bisa dimaklumi, lha ini sepeda motor, rombongan lagi… Wuih…wuih… ngene ki piye cah???
*gambar diambil di palang sepur jalan Rajiman, Makamhaji, kulon Tugu Lilin.
hehe… mungkin kata org2 itu peraturan dibuat untuk dilanggar kali pak..
Pelanggaran seperti itu memang biasa terjadi. Maklum mencari jalan yang tercepat.
peraturan dibuat untuk dilanggar kan?
Mungkin jalannya sepi kali, salam
peraturan dibuat untuk dilanggar, hahahahaha.. jadi malu pada diri sendiri nie…
Kenna dech..! ups, John pantau maksudnya :)
soal langga-melanggar rambu2 lalu lintas agaknya sdh menjadi “penyakit” kolektif bangsa kita, mas andy, hehehe…. tak peduli dari mana ethnisnya, yang pasti kalau ingin melihat kedisiplinan bangsa kita, ndak usah jauh2 nglihatnya, haks. cukup lihat saja di jalan raya.
karena rasa malu sudah ndak ada lagi dan sudah membudaya, sama seperti orang dengan entengnya bilang SIMnya nggak jadi ditahan karena sudah nyuap polisi, hal yang seharusnya malu untuk diceritakan apalagi dilakukan, tapi karena sudah terbiasa ndak tahu malu jadi ya nggak masalah
iya…ya… kok bisa gitu ya…
diwenehi palang sisan wae luwih apik kayak’e…..
La wis piye…menungso yo harus ada yang gitu…kalau bagus semua yo repot juga toh
SIMnya beli, motornya kredit, dan waktu ada pelajaran tata tertib lalu lintas engga masuk. Hehehe..
termasuk saya. Hihihii.
Lha wong SIMnya tukon, je
wadoh ternyata sama aja dengan jakarta euy..