Solo Berseri: Verboden toe Gang

Orang Semarang terkenal gertak semarangan-nya, alias suka nggertak dan omong besar (saya ndak tahu ini benar atau salah atau cuma mitos). Tapi, bila ketemu orang Semarang dan digertak, cobalah ganti digertak. Kalau ngeper, artinya ya cuma nggertak, kalau balik nggertak lagi, harap hati-hati… jangan-jangan yang digertak benar-benar punya andalan, atau bisa jadi punya penyakit greget bisu… Wah… bahaya tuh!

Kakekane… piye jal ki??

Orang Solo lain lagi. Relatif kalem dan lebih sopan, seolah memang punya unggah-ungguh yang tinggi. Tapi jangan salah… Soal berlalu lintas, orang Solo pun nggak kalah nggasruh… Nyuwun sewu, mangga mirsani gambar berikut ini dengan seksama:

Sudah tahu verboden ya tetap saja dilanggar. Saking seringnya dilanggar sampai ada dua rambu lho… Nggak ada pak polisi sih!… Kalau yang ngelanggar sepeda onthel sih masih bisa dimaklumi, lha ini sepeda motor, rombongan lagi… Wuih…wuih… ngene ki piye cah???

*gambar diambil di palang sepur jalan Rajiman, Makamhaji, kulon Tugu Lilin.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

14 thoughts on “Solo Berseri: Verboden toe Gang

  1. soal langga-melanggar rambu2 lalu lintas agaknya sdh menjadi “penyakit” kolektif bangsa kita, mas andy, hehehe…. tak peduli dari mana ethnisnya, yang pasti kalau ingin melihat kedisiplinan bangsa kita, ndak usah jauh2 nglihatnya, haks. cukup lihat saja di jalan raya.

  2. karena rasa malu sudah ndak ada lagi dan sudah membudaya, sama seperti orang dengan entengnya bilang SIMnya nggak jadi ditahan karena sudah nyuap polisi, hal yang seharusnya malu untuk diceritakan apalagi dilakukan, tapi karena sudah terbiasa ndak tahu malu jadi ya nggak masalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *