Soto Mak Srini Limbangan

Barangkali sedulur ada yang belum pernah membaca cerita saya mengenai Pasar Limbangan di Kec. Limbangan, Kab. Kendal… Silahkan menuju ke sana untuk melihat-lihat keramaian sebuah pasar desa di lereng barat gunung Ungaran itu. Ya… Pasar Limbangan hanya ramai pada hari  tertentu saja. Tapi tidak mengikuti hari pasaran Pon Wage Kliwon Legi Pahing, melainkan mengikuti hari-hari Senin Selasa, dlsb. Nah, keramaian Pasar Limbangan memuncak pada hari Senin dan Jum’at saja.

Ada seorang wanita tua (dulu pasti pernah muda) dengan nickname Mak Srini, yang semenjak tahun 1970an berjualan nasi soto. Tentu saja pakai S, karena kalau tidak pakai S jadinya nai oto mak rini. (lmao)

Sebagaimana umumnya nasi soto, material yang terkandung di dalamnya biasa-biasa saja. Ada nasi, taoge, daun seledri, bawang goreng, kecap, sambel, dan jeruk nipis. Optional, penikmat soto bisa menambah daging ayam atau jerohan sapi; babat dan/atau iso (bukan ISO file image). Teman makan yang tersedia juga biasa-biasa saja, optional ada tempe goreng, kerupuk, perkedel, tapi tidak ada aneka tusuk seperti sate ayam, sate kerang, dan sate telur puyuh. (hungry)

Yang membuat cita rasanya sungguh aduhai adalah kuah soto yang Khas Soto Mak Srini. (mmm) Sekilas warna kuahnya mirip dengan Soto Kudus, bukan kuah kuning seperti Soto Semarangan, atau kuah bening soto-soto lainnya.

Penasaran??? Mohon maaf nggak bisa dikirim via japri!!!… (tongue)

sayang sekali Mak Srini enggan difoto, jadinya saya curi-curi foto Mak Srini yang sedang melayani pembeli… (ninja)

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

85 thoughts on “Soto Mak Srini Limbangan

    • @yosafat, jadi ingat. dulu pernah diajak makan soto bukan di limbangan, melainkan di daerah bayat (nek ga salah lho ya, soale malem n gelap), di tengah pasar.

      sotonya sedikit dan murah banget. kalau cuma 1 porsi dijamin ga kenyang (kecuali kalo jaim). tp yg bikin mahal tu lawuh-e. macem2 n marai pengen.

      kalau yg biasa “keplek ilat” mesti ujung2nya mahal jg. tp makan di tempat2 seperti ini (termasuk soto limbangan ini, mgkn) worth it banget kok pak. terlebih lagi suasane merakyat.

      • @yosafat, betul, mas Yosafat! saya lebih suka ke tempat2 seperti itu, ~bukan ke tempat keplek ilat yang mahal~, keluar duit cuma sedikit, ilat sudah termanjakan, nulisnya juga seneng, sekaligus mempromosikan keplek ilat ala rakyat… coba saja kalau Mak Srini dan semacamnya tidak ada yang tertarik nulis, pastinya tidak terinformasikan di dunia maya… Lain halnya keplek ilat yang mahal… pastinya sudah banyak yang nulis, hehehe…

  1. Wehehe… Makan2…. Saya curiga jangan2 mas yosefat ada disebelah mas andy, kok pertamaxnya cepet bangets, hehe. Padahal saya dari tadi ol lagi nunggu komen mas andy ttg koneksi di karmic

    • @Rangga Aditya, engga mas. td saya bangun tidur nyalain desktop trus cek email sm buka twitter. di twitter ada statusnya pak Andy yg ngasih link. setelah di klik ternyata menuju ke sini.

      walopun saya bukan pemburu pertamax (karean saya kemana2 naek bis, jd ga peduli itu pertamax ato solar :P ), tp seneng juga bisa nongkrong di first comment. lalalalala.

  2. Yang membuat cita rasanya sungguh aduhai adalah kuah soto yang Khas Soto Mak Srini. (mmm) Sekilas warna kuahnya mirip dengan Soto Kudus, bukan kuah kuning seperti Soto Semarangan, atau kuah bening soto-soto lainnya.

    mengutip kata-kata di atas yang membedakan soto mak srni dengan soto kudus apa pak? kan kuahnya hampir sama warnanya

    • @ardian eko, namung tigangewu gangsalatus mas! mbenjang menawi tindak Limbangan (Senin & Jum’at) ampun kesupen dhahar soto Mak Srini… (mmm)

    • @Next Jimbun Punya, konek linuxmint-nya nunggu pradna, pasti dia bisa…
      soal mempercepat loading firefox, saya nggak tahu, dulupernah coba beberapa hal tapi nggak signifikan hasilnya… akhirnya kembali ke polosan saja. sudah cukup cepat kok!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *