Suluh

Dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu suluh bisa diartikan sebagai obor atau penerang di kegelapan. Demikian pula dalam bahasa Gayo. Sayangnya, kata yang menurut saya bagus itu jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih banyak digunakan dalam urusan sastra.

Ops, tidak hanya itu! Indonesia juga punya kapal perang yang diberi nama Suluh Pari. Ada juga media massa yang menggunakan kata suluh misalnya majalah jadul Suluh Indonesia, Suluh Marhaen, bahkan Ajip Rosidi -sastrawan Indonesia- semasa duduk di bangku SMP pernah menjadi redaktur majalah Suluh Peladjar (1953-1955).

Di Jawa, kata suluh juga sering digunakan dan tidak hanya bermakna penerang.

Suatu hari, saat saya pulang dari bepergian cukup lama, sesampai di rumah anak saya menyambut dan berkata; “Pak! Gedhange wis ana sing suluh!”…

(doh) Terlalu lama meninggalkan rumah menjadikan saya agak lalai dan tidak begitu memperhatikan kebun di belakang rumah. Ternyata ada pisang yang matang di pohon…

Di Jawa, pisang matang pohon seperti itu disebut pisang suluh.

Haks… Lumayan… Beberapa hari lagi pisang itu -walaupun hanya terdiri dari beberapa sisir saja- pastinya akan matang merata. Selanjutnya bisa dimakan begitu saja, atau dibikin pisang goreng, atau bisa juga dimasak menjadi kolak pisang yang lezat yang bisa dinikmati saat berbuka puasa… (mmm)

Sedulur suka pisang?

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts


Fatal error: Uncaught Exception: 12: REST API is deprecated for versions v2.1 and higher (12) thrown in /home/andymse/andy.web.id/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273