Susahnya Migrasi

Ini bukan soal migrasi konten kemarin yang masih banyak menyisakan ketertinggalan, melainkan susahnya migrasi ke opensource. Kok susah sih? Kok sangat berlawanan dengan gembar-gembor di majalah Infolinux???

Ceritanya begini:

Di kantor saya, hampir semua komputer dan laptop saya pasang dualboot atau dual OS, Windows dan Linux -kebanyakan turunan Debian, khusus untuk saya, hhmmm… saya lebih suka Mandriva. Nah… kebetulan ada program baru, dimana dari pendana program tersebut dianggarkan juga pembelian laptop yang ditangani dari Jakarta. Ketika si lappy datang ke Solo, ternyata isinya juga dual OS yakni Windows dan Ubuntu Linux. Ehem… saya senang sekali, dan ketika beberapa minggu kemudian Windows-nya ngadat karena serangan bermacam virus -biasa, user sering ceroboh-, saya mendiamkan saja. Maksud hati biar ada keterpaksaan untuk menggunakan Linux, apa daya….

Tiba-tiba saya ingat kata-kata Budi Rahardjo dalam sebuah Opini di Infolinux, Mei 2007; “Semua Karena Kebiasaan”…

gambar dari http://rahard.wordpress.com

gambar dari http://rahard.wordpress.com

Yeach… semua karena kebiasaan. Termasuk kebiasaan selama lebih dari dua dasawarsa cuma tahu OS dari Microsoft saja.

Sejujurnya, saya juga termasuk itu. Sejarah saya mengenal Komputer sejak tahun 1989, saya menggunakan DOS, kemudian 1992 baru mengenal Windows 3.0, selanjutnya Windows 3.1, Windows 95, Windows Me, Windows 2000, Windows NT, Windows XP, sampai Windows Vista. Jujur pula, dalam kurun waktu 1989 sampai sekarang, hanya kurang dari 30% saya benar-benar menggunakan FOSS -free operating system and software, diantaranya Redhat, Mandrake, Slackware, Debian, IGOS, Fedora, Opensuse, Ubuntu, dan Mandriva. Itu bukan karena saya lebih suka membajak, melainkan lingkungan di beberapa tempat dimana saya bekerja kebanyakan menggunakan Windows. Minat saya untuk belajar tidak mendapat dukungan yang memadai, padahal, sampai sekarang pun dapat dikatakan saya jarang sekali memiliki komputer pribadi. Hanya karena kebetulan mendapat fasilitaslah saya selalu dapat menggunakannya. Anak-anak di rumah juga bisa bermain komputer kalau kebetulan ada serpisan yang opname beberapa hari di rumah. Untungnya, opnaman itu sering banget, sehingga jarang sekali ada jeda yang cukup lama, dimana anak-anak tidak bisa menggunakan komputer. Tentu saja dengan begitu anak-anak juga bisa mengenal berbagai macam operating system. Lagi-lagi, Windows (bajakan) menduduki ranking tertinggi.

Kembali ke kebiasaan tadi, si lappy yang brodol Windowsnya tentunya mau tidak mau hanya bisa dipakai Linuxnya. Ternyata ada juga yang kesulitan menggunakannya. Tanpa basa-basi, Lappy tadi ganti dibrodoli Linuxnya, diinstall ulang Microsoft Windows -bajakan lagi. Alasannya, digunakan untuk keperluan edit film. Nah.. soal ini memang di Linux kelas meja makan memang belum banyak pilihan yang cukup handal. Perhitungan saya pun meleset, tadinya saya mengira, lappy itu hanya digunakan untuk ketik mengetik laporan kegiatan dan laporan keuangan, juga presentasi. Artinya, dengan OpenOffice pun sudah cukup memadai. Beberapa keperluan lain misalnya bekerja dengan gambar sederhana, bekerja dengan portable data format, berinternet, mencetak, dan bekerja dalam jaringan lokal, apalagi cuma nyetel lagu dan film, sudah bisa disubstitusi dengan baik. Pada awalnya saya maklum saja, karena memang Linux belum bisa memberikan alternatif yang cukup baik. Ternyata, pembrodolan Linux itu karena ybs tidak bisa menggunakan eksternal harddisk 800GB karena tidak bisa memasang drivernya, sedangkan driver hanya tersedia untuk Microsoft Windows.
Weleh-weleh… Menurut saya, waktu yang digunakan untuk instalasi ulang jauh lebih lama dibandingkan mencari solusi di forum-forum Linux yang tersebar di seantero dunia maya. Saya tidak menyalahkan siapapun, juga tidak membenarkan siapapun, kembalinya ya “Semua karena kebiasaan”…

Dalam hati saya meneruskan, termasuk kebiasaan malas belajar

Beruntung, saya tidak begitu malas, sehingga pakai OS apa saja saya cukup bisa menggunakannya. Lagian saya tidak pilih-pilih, pokoknya kompi yang ada di depan mata langsung saja dipakai, mau pakai Linux, Windows, Mac, dlsb… sepanjang bisa memenuhi kebutuhan saya yang tidak pernah rumit-rumit, tidaklah menjadi masalah.

*sayang sekali, posting kali ini juga menggunakan Windows bajakan, saya bermasalah dengan modem bluetooth di Ubuntu saya berkaitan dengan hape andalan yang masih di bengkel. Pakai hape pinjaman, jadul, lelet banget -nyebelin-, juga ga mau konek ke Ubuntu. Huhh, saya benar-benar bodoh tapi sok tahu…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

38 thoughts on “Susahnya Migrasi

  1. saya terkadang agak gak sreg sama club selana cingkrang yang katanya anti amrik anti zionis ituh… yah kalau mau jadi bangsa yang mandiri kenapa mereka tidak punya divisi dakwah open source!
    hahahahahahhaha…. anti amrik tapi pake windows bajakan lagi :D kalau ditanya bajakan kan haram dan sudah diputus fatwa oleh MUI, mereka berkilah ilmu itu milik Allah. berarti mereka menentang otoritas MUI. giliran butuh fatwa rokok, mereka mencumbu MUI.
    hoek….. :D

  2. Agak susah sih mas. Partner kerja, rekanan dan kebutuhan sehari-hari membuat kita mengikuti trend dan posisi mayoritas, dan sang mayoritas ternyata lebih user friendly, mudah dan sudah biasa kita gunakan. Sedangkan waktu untuk beradaptasi (belajar) sangatlah minim, kadang2 saya tidak mengikuti perkembangan jaman juga mengenai masalah OS dsb, saya benar2 hanya user. Hehehe….permasalahan pekerjaan saja sudah menyita waktu kita. Sehingga skala prioritaslah yang menjadi patokannya. Hehehehe…ambil apa yang menurut mas mantab saja deh.
    Suwun.

  3. saya orang sederhana…kamputer apa yang ada di meja, itulah yang saya pake…bisa jalan dengan baik saya seneng, tapi kaluk ngadat saya trus plonga-plongo…kacian de saya..

  4. saya juga sama, mengalami hal yang sama, apa lagi sekarang kerja di tempat yang bekerja sama dengan Microsoft, memaksa saya musti mempelajari os dan aplikasi microsoft lebih. Linux seperti terkubur dalam modus hibernate :(

  5. Kalau saya ajarkan Open Source di sekolah (SMP), kasihan juga murid2 saya, karena di SMA dapetnya juga windows, lomba TIK juga pakainya windows. ya sudah, bajak lagi bajak lagi.

  6. Betul yang sampean katakan cah.. “ala bisa karena biasa”
    Namun yang menjadi persoalan adalah disaat buat main game2 terkini, didaerah saya jarang ada yang jual game pc versi linux…

    Jadi yach… harus membajak lagi…. (saya khan beli di toko china mangga dua, jadi sy ndak dosa toch…? wong saya beli kok cah :lol: )

  7. Hidup …… Mas Andy Mse memang Heeeeuuubat tenan, ini Namanya Pemuda era 2008, Sregep lan trengginas. orangnya baikan, kreatif dan Aeng-aeng wae, tapi nyenengke….
    Terus, Milikku kapan ada sedikit perubahan warna dan lebih joss

  8. Pengalaman anak-anak saya yang awal belajar komputer menggunakan Linux, ketika disuguhi WIndows mereka lebih mudah beradaptasi… jauh lebih mudah daripada yang tahu Windows harus beradaptasi ke Linux. Menurut saya, itu karena Linux secara tidak sadar memberi pemahaman mengenai mesin dan softwarenya yang lebih logis, yang sangat berguna ketika pindah ke OS lain. Misalnya, penamaan harddisk yang berurutan seperti hda, hdb, hdc… atau sda sdb, sdc… partisi primer ditandai dengan angka 1-4, partisi logikal ditandai dengan angka 5 dst. CDROM dan floppy dikelompokkan sendiri. Di Windows, semua berurutan dari A, B, C, D,E, dst… A dan B untuk floppy, C dan seterusnya untuk harddisk dan CDROM… saya pernah menginstall Windows di drive E, dan F untuk partisi kedua di harddisk yang sama dengan instalasi Windows, sedangkan C untuk CDROM dan D dan F untuk harddisk kedua… Hasilnya… pemakai komputer pada bingung…. hehehe… Hal serupa tidak akan terjadi bila menggunakan Linux…
    *Saya mempunyai buku TIK terbitan Widya Pustaka, semuanya ada 14 jilid. Bagus sekali karena di setiap pokok bahasan menyertakan bagaimana di Windows dan bagaimana di Linux…

  9. saya juga tipe pasrah kalo soal software, mas…
    apa yang ada ya itu yang dipake. hehehe…
    tapi emang bener, alah bisa karena biasa, mas… :)

  10. Saya pernah kehabisan napas krn berlari2 mengikuti segala kecanggihan teknologi..lantas saya memutuskan buat berhenti dan memakai apa saja yg tersedia di depan saya.

  11. kalo aku tetep seperti biasa sebagai pembajak saja hehehe… kalo linux belum belajar pernah instal gak mau jalan internetnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *