Susahnya Organik

Seorang kawan bernama Donito, suatu waktu pernah mengadakan penelitian sekaligus belajar masalah pertanian organik. Dikunjungilah seorang petani di wilayah Ngayogyakarta (jelasnya saya nggak tahu), berjejuluk mbak Suko, yang terkenal sebagai petani organik.

“Kulanuwun mbah!”

“Mangga!… Ada apa mas? Mau ketemu siapa?”

“Anu, mbah, saya mau ketemu mbah Suko, mau belajar masalah pertanian organik”

“Eeyalah, lha wong pertanian biasa seperti saya saja sudah angel kok, apalagi pertanian organik, opomaneh kuwi???”

Beberapa waktu kemudian mbah Suko diajak untuk ikut pelatihan pertanian Islami yang diselenggarakan sebuah (menurut istilah Kyai Slamet) klub celana cingkrang. Lagi-lagi mbah Suko ngeyel:

“Opomaneh kuwi, lha kalau ada pertanian Islami, emangnya cara bertani saya disebut pertanian kafir ya???”

Hua ha ha…

Stop… ketawanya stop dulu… Saya akan menyajikan sebuah ilustrasi menarik. Mohon dicatat, angka-angka berikut adalah angka-angka empiris berdasarkan pengalaman mengelola demplot -demonstration plot- di kampung halaman saya, bukan berdasarkan angka-angka ilmiah dari sebuah penelitian serius.

Belum sampai kepada penggantian pembasmi hama organik, baru pada taraf mengatasi ketergantungan petani terhadap pupuk pabrikan, ternyata banyak kesulitan menghadang. Sama seperti susahnya migrasi ke FOSS, “semua karena kebiasaan”. Sudah cukup lama petani kita dicekoki dengan Panca Usaha Tani yang mengarah ke Intensifikasi Pertanian. Hasilnya adalah hilangnya kebiasaan lama yang ramah lingkungan. Dalam jangka pendek, Revolusi Hijau memang berhasil membawa Indonesia menuju ke swasembada pangan. Ditengarai, dalam jangka panjang justru merusak keseimbangan alam. Belum lagi diperberat dengan seringnya terjadi “ledakan hama”, hilangnya kemampuan petani untuk membuat bibit sendiri, struktur tanah pertanian yang makin lama makin menurun, dan ketergantungan petani pada pupuk pabrikan.

Yang terakhir saya sebutkan adalah yang paling menarik, walaupun hal lain juga menarik (masih ingatkah sedulur mengenai seorang petani di Kediri yang dituntut sebuah perusahaan besar penghasil bibit jagung F1, gara-gara petani itu berinovasi sendiri menyilangkan jagung dan membuat bibit sendiri???)…

Dalam percobaan coba-coba di beberapa demplot ditemukan fakta bahwa penggunaan pupuk urea -yang mempunyai kandungan nitrogen tinggi- untuk sawah padi mencapai 300kg per hektar per tahun, semakin lama, seiring dengan menurunnya kualitas tanah (istilah ndesone lemahe bantat), kebutuhan pupuk urea akan meningkat, bahkan ditemukan mencapai 900-1200kg per hektar per tahun.

Anjuran dari penyuluh pertanian di Kabupaten Kendal, Jateng -berdasarkan juklak dan juknis dari pemerintah- saat ini, untuk sawah padi, penggunaan pupuk urea dianjurkan 250kg per hektar per periode tanam, artinya bila bisa dikejar  panen 3 kali dalam setahun pemakaian upuk urea akan mendapai 750kg per hektar per tahun. Praktek di lapangan, petani mengunakan pupuk bisa mencapai 300-400kg per hektar per periode panen.

Penambahan pupuk lain untuk melengkapi kandungan hara dengan tambahan pupuk ZA, NPK, dll, tidak mengejar laju penurunan kualitas tanah. Salah satu sebabnya karena harga pupuk pelengkap lainnya itu jauh lebih mahal dibandingkan harga urea yang sudah mahal. Akhirnya, urea sering menjadi satu-satunya pupuk yang digunakan di pertanian padi/sawah.

Dari hitungan kasar, diperkirakan kebutuhan pupuk itu bisa digantikan dengan 10.000kg pupuk kandang per hektar per tahun. Masalahnya lagi, siapa sih petani jaman sekarang yang masih cukup luang untuk melakukan pemupukan dengan pupuk kandang sebanyak itu??? Teknologi composting yang marak dalam dekade terakhir ini cukup membawa angin segar. Dengan biaya kurang lebih 25ribu per ton bahan baku, dalam waktu 15-20hari saja, pupuk kandang 10.000kg tadi (bisa juga ditambahkan bahan lain misalnya rumput, dedaunan, jerami, bahkan  sampah rumahtangga) bila diolah menjadi fine compost akan menyusut menjadi 2ton saja, dengan kualitas yang lebih baik. Sayangnya, aplikasi yang ribet sangat tidak menarik bagi banyak petani untuk mengganti pupuk pabrikan dengan fine compost. Padahal, dari pengelolaan demplot sudah bisa ditunjukkan bahwa setelah panen ke 3, produksi gabah kering panen meningkat dari 4 ton per hektar menjadi 7-8 ton per hektar. Pada periode tanam selanjutnya, penggunaan pupuk urea cenderung berkurang bahkan bisa dihilangkan sama sekali. Penggunaan pupuk fine compost juga berkurang dan stabil di kisaran 1-1,5ton per hektar per tahun, karena struktur tanah akan menjadi lebih baik.

Pernah ada seseorang bertanya, bila panen padi, lebih berat mana antara jerami dan gabahnya? Jawabnya tentu saja berat jeraminya. Artinya, pupuk yang digunakan untuk bertanam padi juga banyak yang diserap  di jerami. Sayangnya, seringkali jerami justru lebih sering dibakar atau digunakan untuk keperluan lain di luar lahan pertanian. Bila jerami itu ikut diolah menjadi kompos dan dikembalikan lagi ke lahan pertanian, tentu akan berperan menurunkan tingkat kebutuhan pupuk pabrikan. Siapa yang mau???

Baru-baru ini, Sekolah Rakyat bekerjasama dengan sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengadakan pelatihan composting bagi petani. Ini baru langkah kecil menuju pertanian berkelanjutan yang diharapkan berperan mensejahterakan petani. Berikut gambarnya:

Sekali lagi, angka-angka di atas adalah angka empiris pada pengelolaan demplot, bukan angka dari hasil penelitian yang serius. Bagi para ahli pertanian yang kebetulan berkunjung ke blog ini, dimohon sumbang sarannya.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

57 thoughts on “Susahnya Organik

  1. Saya ingat hukum daur energi, setuju bahwa sebaiknya jerami dikembalikan lagi ke tanah berupa pupuk komposting … pak tani mungkin berfikir ngapain susah – susah bikin pupuk sendiri lha wong tinggal beli aja kok (padahal lebih mahal).

    btw saya ketemu rekan blogger Abdul Hakim (seorang guru di Bontang) yang awalnya saya fikir saudara sampean. di http://hakimborneo.blogspot.com/

  2. setujub Pak, dari alam , untuk alam kembali kealam…Harusnya dimulai dari diri kita, dari rumah kita…tapi…(clingak-clinguk) kok aku malah belum memulainya ya…(qiqiqi…kisinan!)

  3. Kira2 karo tanaman pot ibu kos saya tak isingi ben dino kuwi termasuk pupuk organik ra yo mas? soale aku sering maem sing ora organik e…dadi nek ngunu kuwi eekku klebu organik ra? halah malah mbahas njijiki…btw dapet cerita dari si DOny Putra DAerah kalo sampeyan ki jebul yo pekok, dadi pengen bersua…kapan kita bisa bertatap muka ya kira2? apa iya sampeyan sudi meluangkan waktu buat bersua dengan kaum proletar seperti hamba ini? halah kok malah koyo pilem kamandanu to ya…wes ah…tak eek sik…pareng mas….

    Tukang Nggunem´s last blog post..Tentang BOKEP dan HOT MOM

  4. Wow… keren banget tuh! dari pengelolaan sampah rumah tangga saja sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk untuk tanaman hias di seputar rumah…

  5. Tujune 100% sing nulis komentar ning kene bukan Penyuluh Pertanian. Kalaupun ada, ilmu tentang organik juga minim. Saya yakin seyakin2nya, Penyuluh Pertanian yg ada itu ilmunya ilmu modern, kalaupun ada ilmu kunonya, biasanya dianggep ketinggalan dan malah ora dikeki job.
    Ora ngece ora ngepal, pengetahuane Penyuluh Pertanian jaman saiki ing babagan pertanian ramah lingkungan jek kalah karo awake dewe…
    Jek kalah karo leluhure awake dewe…
    Penyuluh Pertanian Resmi malah ndak paham2 amat…
    Nek rak percoyo, potong utangku…

    marsudiyanto´s last blog post..Sejuta Sahabat Kesedikitan, Satu Musuh Kebanyakan

  6. “Opomaneh kuwi, lha kalau ada pertanian Islami, emangnya cara bertani saya disebut pertanian kafir ya???”
    bhuahahaha…
    jan lugu tenan mbah suko ituh…
    hihihi…
    aku juga setuju, dari alam kembali ke alam, dari rakyat untuk rakyat… *malah ndladrah* :)

    caroline´s last blog post..Memberi

  7. Memang, yang alami itu lebih bagus daripada yang non alami. Penurunan kualitas tanah memang harusnya sudah menjadi wacana yang serius ditangani. Bayangkan kalau hal ini dibiarkan, bagaimana kualitas tanah 10 th mendatang?
    Memang kerusakan kerusakan yg terjadi sebenarnya akibat ulah manusia sendiri.

    Erik´s last blog post..Pengumunan Bank Indonesia

  8. petani kita memang sudah kecanduan pada taraf akut dengan yang namanya pupuk kimia bikinan pakde PUSRI maupun bikinan yang laen.
    Saya pernah meminta orang yang mengerjakan sawahnya Pakde saya di Klaten untuk pake kompos aja, eee malah ditertawakan… “nek nganggo kompos iso rak panen mas..” demikian katanya.
    btw, Mbah Suko itu adalah orang Magelang beh. Rumahnya di daerah Sawangan (kearah Ketep Pass)

    ciwir´s last blog post..Umbul Cokro

  9. banyak betulnya pak! saya ngalami sendiri jadi petani selama beberapa tahun… malah dianggap aneh kok!
    *potong utangku saja pak!

  10. lho… enggak nggladrah kok! itu bener mbak, untuk keberlanjutan pertanian di Indonesia… katanya negara agraris, kok impor beras… ini yang aneh, hehehe

  11. makasih infonya, saya lagi belajar tentang pertanian organik. Pengen punya pertanian organik suatu saat nanti, amin.

  12. Bagi tanaman, pupuk organik atau anorganik nggak ada bedanya. karena tanaman menyerap hara dala bentuk ion-ion. Perbedaannya adalah reaksi terhadap tanah. Pupuk anorganik bisa merusak tanah. Namun pupuk organik memiliki kelemahan dalam hal mobilitas. Contohnya untuk mendapatkan hara N, P dan K senilai 50 kg pupuk NPK dibutuhkan lebih dari 1 ton pupuk kandang/kompos, sehingga biaya angkut lebih mahal. Dan juga kebutuhan pupuk yang begitu banyak sulit terpenuhi oleh produksi pupuk organik seperti pupuk kandang atau kompos. Mungkin salah satu solusi agar bertani tanpa merusak tanah dan tetap menggunakan pupuk secara praktis adalah dengan cara bertanam dalam polibek atau pot., bahkan dengan sistem hidroponik. Hanya saja untuk tanaman umur panjang seperti tanaman mangga sulit untuk ditaman dengan cara demikian.

  13. Biar gak ribet, bisa dipertimbangkan dengan pupuk hayati yang sanggup digunakan tanpa pupuk kimia sama sekali. Jadi, buka hanya mengurangi dosis pupuk kimianya, namun benar-benar tanpa pupuk kimia.

    Salam/ anungrey2008@yahoo.co.id

  14. bila petani sanggup buat pupuk sendiri dari bahan organik saya yakin bangsa ini bisa jadi kuat,karena petani dapat meningkatkan produksinya tanpa pupuk anorganik sehingga pangan yang sehat bagi penduduk bangsa ini tercukupi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *