Suweg

Tanaman Suweg --gambar dari: http://budiboga. blogspot.com/2008/01/ eklusif-di-budi-boga-umbi-suweg.html

Minggu kemarin ketika saya berbelanja ke pasar tiba-tiba ditawari suweg oleh seorang pedagang palawija. Ya, suweg termasuk palawija, khusushon kalau di Jawa termasuk palapendhem atau umbi-umbian yang dijadikan bahan pangan. Jaman dulu suweg termasuk pangan alternatif yang cukup populer di pedesaan bersama umbi-umbian lain misalnya singkong (Jw: pohung), ubi jalar, uwi, gembili, kimpul (talas), dan lain-lain.

Umbi suweg besarnya kepalan tangan bahkan tidak jarang yang sebesar kepala orang dewasa. Bentuknya bulat agak gepeng, pada bagian atas ada lekukan yang terbentuk karena di lekukan itu adalah tempat tumbuhnya batang tanaman suweg. Nah, tertarik karena umbi ini unik dan ingin mencoba rasanya, saya pun membeli satu umbi yang cukup besar. Selama ini (walaupun berasal dari pedesaan) seingat saya belum pernah sekalipun merasakan suweg. Kalau umbi-umbian lain sih sering, yang paling sering adalah kimpul (talas), ubi jalar, dan tanaman penjajah -singkong- (lihat catatan khusus). Yang jarang saya nikmati tapi sering saya rindukan adalah ganyong  (Canna edulis).

Umbi Suweg --gambar dari: http://simonbwidjanarko. wordpress.com/2008/05/21/ kandungan-porang/

Sesampainya di rumah, saya segera membersihkan umbi suweg itu dan mengukusnya. Pikir saya, seperti umbi-umbian lain yang biasa dimakan, suweg pun rasanya enak. Ternyata saya keliru! Suweg rasanya hambar atau netral dan terasa agak lekat (Jw: pliket). Menurut istilah Jawa, rasa hambar semacam itu disebut anyep. Pantas saja suweg jarang dijadikan makanan sampingan seperti umbi-umbian lain yang kebanyakan rasanya manis.

Bingung karena pastinya suweg itu bakal nggak laku dimakan anggota keluarga, putar otak saya mendapatkan ide untuk mengolah suweg menjadi perkedel (saya pernah mencoba membuat perkedel selain berbahan dasar kentang yaitu dari talas dan ubi jalar, rasanya juga enak). Yang tak terduga, perkedel dari suweg pun rasanya tidak kalah dari perkedel berbahan dasar lain. Bahkan karena sifatnya yang agak lekat itu justru memudahkan pembuatannya, tidak gampang pecah dan tidak butuh perekat (mis: telur) yang dibutuhkan bila menggunakan bahan umbi lain. Hanya saja, sebelum diolah, suweg harus dikupas dan dicuci bersih sampai hilang getahnya. Ini dimaksudkan untuk menghilangkan adanya sedikit rasa gatal yang tak beda jauh dengan rasa gatal pada jenis talas lainnya.

Masalah teratasi, dan perkedel suweg pun laris manis menemani makan siang. Akan tetapi, kebingungan sebelumnya itu membuat saya tidak sempat mendokumentasikan suweg dan rasa penasaran membuat saya segera mencari-cari referensi di internet mengenai suweg.

Mengejutkan!

Suweg atau iles-iles atau porang yang kelihatannya sepele itu ternyata digemari di banyak negara lain. Kandungan gizi suweg pun banyak memiliki keunggulan. Kegunaan selain bahan pangan juga ada antara lain untuk industri, kosmetik, dan pengobatan…

Membaca bermacam referensi itu membuat saya merenung, begitu banyak kekayaan bumi Indonesia dari yang jelas kelihatan sampai hal yang sepele dan remeh semacam suweg. Sayangnya, ada yang alih-alih memanfaatkannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat malah menggadaikannya. Jangankan kekayaan alam, martabat pun tega digadaikan. Banyak orang menyerukan kebangkitan nasional, namun di saat yang sama banyak yang mempurukkan.

Mari kita bangkit!!!… Rumusnya masih sama seperti pada paragraf akhir tulisan saya sebelumnya… 3M. :-p

Setiap hari, hari demi hari, seharusnya menjadi hari kebangkitan nasional bagi negeri ini sehingga mampu menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo dan tegak berdiri menjadi mercusuar dunia. (komentar Itempoeti pada tulisan Kebangkitan Nasional di blog ini )

Referensi:

  1. Budidaya Porang/Iles-iles
  2. Kandungan Porang
  3. Umbi Suweg
  4. Suweg – wikipedia

Catatan khusus:

Banyak yang mengira bahwa singkong atau ketela pohon adalah tanaman asli Indonesia. Bisa jadi karena di Indonesia ada begitu banyak makanan olahan yang berbahan dasar singkong. Anggapan ini keliru karena singkong (Manihot utilissima) berasal dari Brazil dan masuk ke Indonesia (dulu masih disebut Hindia Belanda) pada masa Cultuurstelsel (Tanam Paksa) 1830-1870 yang diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Singkong dibawa oleh penjajah pada kisaran tahun 1852 dan dikembangkan di wilayah-wilayah pertanian yang kurang subur tak lain dan tak bukan karena wilayah pertanian yang subur dikuasai oleh penjajah dan digunakan untuk menanam aneka tanaman laku ekspor yang hasilnya dimiliki oleh penjajah. Karena kebutuhan pangan untuk rakyat terjajah yang berkurang karena lahan tanaman pangan dikuasai penjajah, dicarilah alternatif tanaman pangan untuk rakyat terjajah yang bisa ditanam di lahan pertanian yang kurang subur. Pilihannya adalah singkong yang didatangkan dari benua Amerika itu. Walaupun nilai gizinya lebih rendah dibandingkan makanan pokok asli penduduk kepulauan Dewi Sri, namun tetap mengenyangkan perut dan membuat rakyat terjajah tetap bisa bekerja.

Tanam paksa (Cultuurstelsel) adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah Belanda. (dari bermacam sumber)

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

30 thoughts on “Suweg

  1. oww lagi ngerti opo kui suweg , krungu ae lagi wae iki .. hehehe

    wahh ternyata pak andy yo iso gawe perkedel thoo ,,

    *kalo suweg itu kandungan gizi nya sip dan harganya oke , brarti bisa dijadikan makanan alternatif donk …

  2. lah saya baru tahu umbi-umbian yang namanya suweg atau mungkin pernah makan tapi gak mau tau namanya apa, langsung makan aja

  3. semenjak hijrah ke Semarang 17 tahun silam dari pelosok karanganyar, belum pernah lagi makan suweg mas, titisan Dewi Sri emang kudu makan yang dari padi kok mas… :D
    *melepaskan gelar Sriyono ST menjadi Sriyono Semarang yo mas… qiqiqiiqi…

  4. Mungkin kalau di tempat saya namanya “Wi” ya? kalau dilihat gambar ubi n rasanya yang katanya hambar sih…tapi kalau pohonnya saya nggak gt ngerti…

  5. Suweg atau uwi, kok sepertinya sekarang sudah agak jarang pohonnya. Bagaimana kalau dibudidayakan secara serius, mungkin ada prospek nya.

  6. Berhubung saya masih tinggal di desa, suweg, gembili, gadhung, uwi, boled alias pohung, kenthang ireng (kenthang kecil2 yang dikukus kulitnya jadi hitam) masih banyak Pak Dhe. Namun sayang, saat ini lidah orang Indonesia lebih cocok dengan makanan luar. Mungkin palawija seperti ini, akan semakin langka jika tidak ada lagi yang mau memakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>