Jika ya, mengapa?

Cengkir yang sedang duduk-duduk manis di pojokan Pendapa Balai Desa Carangpedopo, mendengar kata itu seketika terpana. Nada bicaranya itu lho… Terkesan angkuh, sombong, dan merasa paling benar sendiri. Balai Desa sore ini memang ramai oleh banyak sastrawan. Dan keramaian itu asal muasalnya berawal dari tulisan sastra seorang wartawan –yang kulit badannya belang-blonteng– di sebuah Buku Sastra yang ...read more