Tahun 2000

tahun duaribu tahun harapan, yang penuh tantangan dan mencemaskan
wahai pemuda dan para remaja, ayo siapkan dirimu
“siapkan dirimu, siap ilmu siap iman
siap”

tahun duaribu kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin
manusia tidur berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin
“sungguh mengagumkan tahun duaribu
namun demikian penuh tantangan”

penduduk makin banyak, sawah ladang menyempit
mencari nafkah smakin sulit
tenaga manusia banyak diganti mesin, pengangguran merajalela

sawah ditanami gedung dan gudang, hutan ditebang jadi pemukiman
langit suram udara panas akibat pencemaran

“wahai pemuda remaja sambutlah tahun 2000 penuh semangat
dengan bekal ketrampilan, serta ilmu dan iman”

“bekal ilmu dan iman”

(Tahun 2000, Nasida Ria)

Baru-baru ini, saya mendengarkan sebuah lagu qasidah yang sudah sangat jadul. Saya mengenal lagu Tahun 2000 sudah sangat lama, ketika adik bungsu-ku masih usia TK, padahal sekarang dia sudah berkeluarga dengan 2 anak berumur 7 dan 3 tahun.

Lagu itu dinyanyikan oleh Supergrup Qasidah “Nasida Ria” dari Semarang, yang lagu superhits “Perdamaian”nya sempat dinyanyikan ulang oleh GIGI. Saya benar-benar terkesima, dan saya punya keyakinan 100% bahwa penuls lagu qasidah “Tahun 2000” adalah orang yang jenius dan futuristic.
Bagaimana tidak???
Lagu itu, seingat saya populer sekali di pertengahan dekade 80-an. Artinya kira-kira 15 tahun sebelum tahun 2000. Akan tetapi, penulis sangat cerdas meramalkan apa yang terjadi pada tahun 2000, walaupun kenyataannya sedikit melenceng, mundur kira-kira 5 tahun.

Coba kita cermati bait demi bait lagu itu.

tahun duaribu kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin
manusia tidur berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin

Kalau kita lihat sekarang, pekerjaan kita banyak sekali dibantu mesin. Mulai dari mesin pertukangan, sampai laptop yang setia bersanding membantu kelancaran kerja. Bepergian dengan berjalan kaki atau naik kereta kuda sudah sangat ketinggalan. Bayangkan, hanya dengan Rp. 500.000 saja sudah bisa membawa pulang sebuah sepedamotor baru. Mesin lah yang membawa kita berjalan dan berlari, bahkan dengan kecepatan yang luarbiasa. Tidak hanya itu. Sehari-hari pun kita tidur berkawan mesin, mulai dari kipas angin, air conditioner, handphone yang selalu standby di sisi kita, sampai bangun tidur pun harus diingatkan oleh alarm. Ketika ingin makan dan minum, kulkas, magic com, oven microwave, dan peralatan dapur lain yang serba canggih siap melayani kita sehingga makanan dapat disiapkan lebih cepat, tetap segar dan bergizi.

penduduk makin banyak, sawah ladang menyempit, mencari nafkah smakin sulit
tenaga manusia banyak diganti mesin, pengangguran merajalela

Yang ini lebih jelas, semakin banyak penduduk tentu saja membutuhkan tempat yang semakin banyak, akhirnya karena tak ada tempat lagi, mulailah menggusur sawah dan ladang tanpa menyadari bahwa sawah dan ladang adalah pemasok kebutuhan pangan. Dengan banyaknya industri modern penyedia kebutuhan manusia, kebutuhan tenaga manusia untuk dipekerjakan semakin berkurang karena banyak hal tergantikan oleh mesin yang lebih efisien dan teliti, walaupun mesin tidak dapat berfikir. Tentu saja karena pola padat karya berganti menjadi padat hasil dan padat laba, pengangguran pun merajalela. Benar kan?

sawah ditanami gedung dan gudang, hutan ditebang jadi pemukiman
langit suram udara panas akibat pencemaran

Yang terakhir ini yang paling mengagumkan. Kesadaran penulis “Tahun 2000” akan kelestarian lingkungan ternyata jauh lebih maju. Lima belas tahun sebelum Y2K, beliau telah menggagas, jauh sebelum dunia sadar dan menggelar Konferensi Pemanasan Global.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts