Teladan dari Pak Guru

Guru, dalam bahasa Jawa biasa dipanjangkan menjadi “digugu lan ditiru” (diikuti dan ditiru). Sayangnya sering juga dipelesetkan menjadi “wagu lan kuru” (norak dan kurus), padahal hampir semua orang mengakui jasa guru, sampai-sampai negara pun menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. (doh)

Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kealpaan, tidak semua guru itu baik tapi bukan berarti semua guru itu jelek. Sebaliknya, tidak semua guru itu jelek tapi bukan berarti semua guru itu baik… Tidak semua guru mau disebut sebagai “digugu lan ditiru“, bahkan karena guru (di sekolah formal) berpijak di dua sisi, antara panutan dan profesi, ada juga pak guru yang sedemikian rendah hati, sampai-sampai menegaskan; “saya bukan guru (hanya bekerja sebagai pengajar)“.

Bicara soal guru yang menjadi blogger, banyak sekali contohnya dan terlalu banyak untuk disebutkan di sini.

Kalau bicara guru yang secara sadar bermigrasi ke FOSS (free operating system anad software), itu baru menarik. Saya yakin, sebetulnya sudah cukup banyak, namun saya juga lebih yakin masih lebih banyak yang menikmati software bajakan, sama yakinnya bahwa cukup sedikit yang menggunakan OS legal yang kebanyakan bawaan dari komputer yang dibeli dari toko.

Pernah, beberapa waktu lalu saya sempat geli ketika tahu ada guru yang bersemangat pindah ke Linux padahal baru kenal Linux lewat sebuah seminar saja. Saking keladuk-nya sampai-sampai menjadi benci pada Microsoft. Wow…wow…wow… padahal bukan itu yang dimaksud (beruntung, guru keladuk itu sepertinya sekarang sudah sadar).

Pindah ke FOSS termasuk Linux artinya memerdekakan diri dari kungkungan yang membatasi kebebasan untuk menggunakan, menyesuaikan, bahkan mengubah software sesuai keinginan dan kebutuhan pengguna.
Menggunakan FOSS termasuk Linux artinya menghormati karya orang lain.
Menggunakan FOSS termasuk Linux artinya menghemat pengeluaran untuk pembelian software. Karena banyak software dihasilkan dari luar negeri sama saja dengan menghemat devisa.

igos+007 -kalau masih kecil, diajari apa aja ya oke-oke wae-Kembali ke pembicaraan semula, guru yang saya maksud adalah pak Sawali yang baru-baru ini pindah ke lain hati OS. Yang saya heran, pak Sawali menyebut bahwa saya termasuk salah seorang di antara banyak orang yang ngompori untuk pindah ke Linux. Mungkin yang saya sampaikan adalah biasa-biasa saja, namun kebetulan cukup mengena, dan saya teringat kembali kata-kata lama “semua ini hanyalah masalah moral“… Padahal sebetulnya bukan hanya masalah moral, juga kemauan.

Dari berbagai catatan bertemu banyak orang selama 2 tahun terakhir ini ketika berkunjung ke beberapa sekolah untuk berbagai keperluan yang kebetulan berhubungan dengan dunia perkomputeran, ketika saya berbicara masalah FOSS dan Linux, banyak orang enggan mendengarkan. Kesannya adalah sulit, tidak familiar, pakai yang umum-umum saja, dan berbagai alasan lainnya. Yang saya lihat justru adalah keengganan dan kemalasan untuk belajar sesuatu yang baru. Banyak guru TIK yang saya temui di beberapa daerah di Jateng dan Jatim, rata-rata mereka menutupi kekurangannya (keengganan dan kemalasan) itu dengan menjadikan siswa sebagai kambing hitam. Kasihan siswa kalau setelah melanjutkan nanti mereka mendapatkan pelajaran TIK yang hanya berjendela saja, demikian menurut mereka. Padahal, siswa diajari apa saja ya oke-oke aja lho!… Ah… sudahlah…

Yang jelas, saat ini saya merasa cukup senang, apalagi di belakang pak Sawali (saya yakin) akan ada beberapa guru yang “urut kacang” bermigrasi ke FOSS…

Kalau para guru sudah bersiap di depan, kita “tut wuri handayani” mengikuti para teladan…

(gym)

Selamat kepada pak Sawali yang telah bermigrasi ke Ubuntu, dan kepada sedulur sekalian, saya sampaikan selamat menunaikan ibadah puasa Romadhon… semoga di akhir Romadhon nanti sedulur meraih kemenangan sejati…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

67 thoughts on “Teladan dari Pak Guru

  1. pak sawali emang top
    sekalian mau pamit tugas terus dilanjut pulkam
    titip blog ya mas.
    soalnya post jalan terus hasil scedule
    yen ono wektu jawabaono koment sing mlebu blaiiik blaikkkk

  2. Aku yo pengin belajar Pak, walau ora migrasi
    Ono pirang2 parameter yang jadi kendala dalam belajar sesuatu
    1. Lingkungan
    Nek lingkungane ora ono sing paham, sangat2 menghambat pada apa yg kita pelajari. Argumentasi yg menyebutkan kita bisa belajar secara online itu tak berlaku umum
    2. Kebiasaan
    Kebiasaan membawa kita pada kenyamanan. Contone mangan muluk. Nek ujug2 dirubah nganggo peso mesti angele. Biasa numpak motor bebek ujug2 ganti Vespa koyo kuwi…
    3. Faktor X
    Lha iki sing ora bisa dideskrepsikan. Orang per orang faktor X nya ndak sama.
    Kanggoku nek migrasi ketoke tangeh tambahi lamun. Tapi nek mix yo mungkin.
    Iki menurut aku, kanggoku.
    Aku salut kanggo poro sedulur sing wis mentas soko pembajakan.
    [OS sing tak nggo ketoke resmi, ono stickere. Umpomo palsu, sing malsu tokone…]
    .-= sedulur marsudiyanto menampilkan tulisan..Tanda2 Penunda =-.

  3. Sing jek mbingungke aku kuwi nek hardware bajakan alias palsu Pak.
    Sementara ini sing diuplek2 kan software bajakan.
    Lha piye hukume nek sedulur nganggo mouse utowo keboard logitech tiruan?.
    Kok kayane langka sing mbahas.
    Sepatuku yo Pacalolo palsu ki Pak?
    Aku yo nduwe kaos dagadu palsu.
    Piye jal…
    .-= sedulur marsudiyanto menampilkan tulisan..Tanda2 Penunda =-.

    • hardware bajakan lebih parah pak!
      dulu saya pernah nemuin beberapa motherboard yang chipsetnya menipu.. dipasangi pentium 1,8GHz munculnya 2GHz… (lmao) sebetulnya saya pernah bahas juga hardware yg menipu itu misalnya bluetooth, hehe…

  4. urun rembug nggih pak.

    wah bagus2. makin banyak yg pakai linux. asal proses perpindahannya dari windows ke linux tidak terlalu disertai kebencian pada windows atau menjelek2kannya. karena memang saya pikir tidak perlu ada kebencian. hehe.

    sebenernya kalau mau dan bisa, ya pakai saja dua2nya. lagian windows dan linux punya kelebihan masing2. windows itu produk yg sangat luar biasa. begitu juga linux. ditambah lagi freebsd, mac-os, solaris, dll. kalau bisa mengambil sisi positif dari tiap2 produk itu, kenapa tidak?

    bagi saya yang cuma sekedar end user, apa itu opensource atau proprietary, tidak jadi masalah. toh saya bukan developer. tp mgkn case-nya lain kalau developer. mungkin mereka lebih prefer opensource untuk dikembangkan lagi. banyak juga software developer (termasuk di indonesia) menjadikan produknya sebagai proprietary software. dan harganya mahal.

    tapi saya sepakat dengan panjenengan kalau alasan “malas” mencoba produk lain dan terlalu nyaman dengan satu produk itu tidak baik. apalagi di dunia pendidikan. malah sebaiknya siswa diajari dengan banyak pilihan dan biarkan mereka menilai :) dan semog siswa juga tetep diajari untuk berintegritas untuk tidak memakai produk bajakan.

    mungkin lain waktu panjenengan saged mengulas mengenai open source dan proprietary software dari sisi yang lain. i’ll be glad to know more about your opinion :)

    FYI, saya pakai dua2nya windows n linux. hehe. kalau sudah butuh dan sudah mampu, mgkn mau mencoba mac-os.
    .-= sedulur Cah Sukoharjo menampilkan tulisan..Cukup itu Indah =-.

  5. mantabbb…
    pak sawali pancen benar2 begawan bangsa…
    pak andy pancen benar2 provokator kebaikan bangsa…
    pak marsudiyanto benar2 kritikus bangsa…
    .-= sedulur ciwir menampilkan tulisan..Candi Asu =-.

    • @Puspita, saya dulu mulai belajar linux juga sendirian (tahun 2000an)… bahkan sampai tahun 2008 saya selalu mengatasi persoalan sendiri. baru di tahun 2009 ini saya bergaul dengan komunitas pengguna linux.
      coba aja dulu deh! pasti bisa!

  6. untuk migrasi ke ke linux memang harus dilakukan oleh para guru, juga sudah ada modul yang dikeluarkan oleh depdiknas yang bekerjasama dengan kominfo. tapi kalau kerja sendiri memang butuh perjuangan di lingkungan sekolah. adanya faktor X yang tiap sekolah pasti berbeda.
    .-= sedulur mastermisterndru menampilkan tulisan..PLPG 2009 Malang ?! Hm..hm… =-.

    • @mastermisterndru, di tingkat yang lebih tinggi dari lingkup sekolah juga terjadi hal yang aneh… tidak ikutan menggalakkan FOSS justru membiarkan penggunaan software bajakan bahkan sampai di lab-lab komputer di sekolah…
      *secara moral, ini sangat tidak baik*

  7. Mungkin saya salah satunya guru ( yang tidak wagu) tapi gak bisa ditiru nih pak … he…he…
    Dan bukti memang banyak sekali, guru-guru itu (termasuk saya) sulit sekali menerima perubahan… termasuk untuk pindah ke lain hati, n ggak pakai software bajakan…
    Bahkan guru TIK aja banyak yang gak tahu lho apa itu Linux.
    Saya sendiri tiap hari diiming-imingi suami tentang hebatnya LINUX, sampai majalahnya aja digeletakkan di mana-mana… Ketika PC di rumah diisi linux saya juga cuap-cuap…
    Ternyata sulit juga, kita mengawali sesuatu yang baru… padahal sangat bermanfaat ya.
    .-= sedulur Atik menampilkan tulisan..ANDAI AKU BISA =-.

  8. Wah, jadi tambah semangat nich buat pindah. Tapi, sementara dual os dulu. Soalnya masih membutuhkan jasa dari jendela. Tapi belum asli. Soalnya dah mulai niat pindah ke linux

  9. Semangat Pak Guru Sawali perlu menjadi teladan. Beliau adalah guru sebenarnya. Salam hormat buat Pak Andy dan Pak Guru Sawali

  10. Guru kui enek 2 pak tipene.
    1,guru sing patut digugu lan ditiru
    2,guru sing patut diguyu lan ditinggal turu.

    Sebenernya perlu ketegasan pemerintah dalam menegakan berdirinya open source diindonesia.
    Mewajibkan penggunaan open source sbg Os dlm mapel tik sampe tingkat sma misalnya,ato semua komputer yg dipake di imstansi pemerintahan diisi sopwer open source.

    Dng pembiasaan mulai belajar memegang komputer ber os open source,tentunya akan memudahkan dlm pemakaianya kelak.

    Sementara bagi guru yg memiliki tipe digugu lan ditiru,tentu menginginkan yg terbaik u/muritnya.Memberi sebatas kemampuan murit tampa harus memaksanya,jika hanya muat sesendok,tdk akan memaksa sepiring.

    Dng adanya kebijakan berjendela,bkn hanya memaksa murit u/menelan sepiring tapi sebakul.Dng begitu murit pun akan berusaha dng berbagai cr agar bs menghabiskan yg sebakul itu td dng berbagai cara,gak peduli bnr ato salah.

    Karena dipaksa menerima materi tik jendela,mk cuma bs main jendela,trus beli kompi pun yg berjendela.Karena jendela asli mahal minta ampun,smentara sang murit&kluarga hanya memiliki kemampuan sesendok,maka yg dibeli ya jendela palsu.

    Satu dosa terbuat.

    Eh,kok dadi nglantur yo komenku?Opo mergo wis ngantuk yo?
    Yo wis lah pak,tak turu disik.Met menyambut idul fitri,mohon maap lair batin

  11. Pengen sekali waktu bermigrasi pake open source lagi. Sayang, waktu dan fasilitas belum memungkinkan.. Masih sedikit sekali komunitas kami yg memakai open source hehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *