Ikan Ngongok di Telaga Ngebel

logo1th-kotareyog-copyTelaga Ngebel Ponorogo, seminggu lalu (09/08/2009).

Bangun pagi di Pesanggrahan Putri Songgolangit di tepi Telaga Ngebel734mdpl– di lereng Gunung Wilis, yang terasa hanya dingin dan dingin… Ops, yang bangun pagi itu Diki… Saya sendiri tidak bangun pagi karena tidak tidur semalaman. Setelah semalam nonton Festival Reyog Mini ke 7 Tahun 2009 di Alun-alun Kab. Ponorogo, malam yang seharusnya digunakan untuk istirahat tak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Maklum, kesempatan bertemu blogger dari berbagai kota bukan hal yang bisa ditemui setiap hari. Saya pun bukannya istirahat malah ngobrol bersama beberapa blogger yang kebetulan juga malas untuk tidur.

Nah… Waktu jalan-jalan pagi di alan aspal yang mengelilingi telaga itu, saya melihat seorang bapak yang duduk di tepi telaga sambil membawa jaring kecil yang dipasang di ujung galah. Iseng saya dekati, ternyata bapak itu sedang mencari ikan. Tentu saja saya heran, kok bisa menjaring ikan hanya menggunakan jaring sekecil itu. Ternyata, menurut bapak itu, pada bulan-bulan di tengah musim kemarau dimana air telaga menyusut, kadar welirang (belerang) dalam air meningkat sehingga banyak ikan teracuni. Ikan-ikan yang mabuk itu mencari tempat dimana ada air mengalir masuk ke telaga, mungkin untuk mencari air yang masih segar.

Tak tahunya, di situ sudah menunggu bapak itu dengan jaring kecil di ujung galah. Kena deh…

Sempat pula saya meminjam jaring si bapak itu, ternyata beberapa ikan masih cukup giras (liar) sehingga sulit dijaring. Tapi di sekitar itu terlihat juga beberapa ikan yang mati mengambang. Bisa jadi, apa yang dikatakan bapak itu benar adanya.

Ikan yang menjadi target adalah Ikan Ngongok yang menurut bapak itu adalah ikan asli dan khas Telaga Ngebel. Yang berhasil dijaring sih ukurannya hanya 10-20cm saja, namun berdasarkan pengalaman si bapak itu, pernah ditemukan Ikan Ngongok seberat 3 kg. (haha)

Saya bukan ahli biologi, juga tidak pernah bersekolah di jurusan yang berkaitan dengan perikanan, namun berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pehobby mancing, menurut saya ikan itu mirip dengan Ikan Sebarau (Hampala macrospidota). Selain terlihat dari bentuknya yang memanjang, juga dari ciri warna jingga pada ekor dan siripnya. Kalau di Danau Singkarak, Sumatera Barat, ikan semacam itu disebut Ikan Sasau atau Ikan Barau. Dalam ukuran kecil, Ikan Ngongok mirip dengan wader kali yang banyak terdapat di sungai-sungai di pegunungan (kalau di Danau Singkarak, ada ikan semacam itu yang namanya Ikan Bilih). Hanya saja, wader kali dan ikan bilih ukurannya kecil, panjangnya kuira-kira hanya 5cm saja.

ikan-ngongok-dari-telaga-ngebel

Yeach… Pagi itu saya tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan Telaga Ngebel, karena harus mengikuti Sarasehan Ambalwarsa Kotareyog (tentang sarasehannya saya tidak akan bercerita karena sudah banyak yang bercerita, hehe). Yang jelas,  saya dan Diki harus ikut, kalau enggak kan nggak enak kalau nanti dapat hadiah hosting 1GB gratis setahun(lmao)

Seusai sarasehan yang meriah, barulah saya, Diki, juga blogger-blogger dari berbagai kota yang mengikuti Ambalwarsa Kotareyog berkesempatan untuk tamasya di Telaga Ngebel. Naik perahu keliling telaga menjadi favorit para pelancong Telaga Ngebel. Beberapa sempat pula menikmati kelezatan Ikan Ngongok. Sayang sekali, saya tidak berkesempatan mencicipinya.

Siang menjelang sore, satu per satu peserta berpamitan kembali ke habitat. Saya dan Diki termasuk rombongan yang terakhir kali berpamitan, meninggalkan Pesanggrahan Putri Songgolangit bersama rombongan Blogger Warok.

Perjalanan pulang dari Ambalwarsa Kotareyog tidak seperti jalur berangkat, melainkan mencari jalan alternatif yang lebih pendek, sekaligus menambah pengalaman (jajah desa milang kori). Dengan begitu, walaupun jalurnya lebih pendek, tetap saja mampir ke beberapa tempat yang sekiranya layak dikunjungi untuk menambah pengalaman antara lain; PLTA Ngebel yang berkapasitas 2×2,2megawatt, Telaga Sarangan, Cemorosewu, dan Astana Giribangun.  Selengkapnya  gambar-gambar jalur pulang yang tidak melewati Madiun dan Maospati itu bisa disimak di Ngebel-PLTA-Doho-Dolopo-Geger-Goranggareng-Magetan-Plaosan-Sarangan-Cemorosewu-Cemorokandang-Tawangmangu-Astana Giribangun-Karanganyar, dan berakhir di Solo Berseri.

Oh ya, BUKAN HOAX, kemarin, persis seminggu setelah keberangkatan saya ke Ponorogo, datang email ke saya dan Diki. Isinya pemberitahuan bahwa hadiah hosting gratis setahun berkapasitas 1GB siap digunakan…

(haha) Saya dapat DUA!!!…

foto-foto dari: diki.cahbag.us

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

31 thoughts on “Ikan Ngongok di Telaga Ngebel

  1. Fotone sing nyetir perahu nganggo sikil kok ora dipasang ning kene Mas?.
    Hebat banget, sikile biso nyekel stir…
    Nek nggo nyekel pisang mesti luwes kuwi… :D .-= marsudiyanto´s last blog ..Bangga =-.

  2. Nama desanya kok lucu, nama ikannya juga lucu..
    Ternyata kekayaan alam Indonesia begitu berlimpah, hingga kutak tahu nama2 itu…hiks:-(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *