Telpon Angin (Tulisan Ke-1)

Sewaktu saya masih kecil, keluarga saya tinggal di pedesaan yang berdekatan dengan perkebunan karet dan pabrik pengolahannya. Seringkali saya bersama teman-teman -anak-anak desa- bermain-main di kompleks pabrik karet itu. Generator besar yang knalpotnya mengeluarkan suara gemuruh, dan berbagai mesin serta peralatan berukuran besar yang ada di pabrik itu membuat kami selalu kagum dan terheran-heran.

Tidak jauh dari pabrik, berdiri satuan beberapa bangunan tempat bekerja para pegawai administrasi. Di pojok halamannya berdiri tiang rangkaian besi berbentuk segitiga yang di atasnya ada batangan-batangan logam malang-melintang. Waktu itu kami tidak tahu bahwa itu adalah antena radio komunikasi. Beberapa kali mencuri dengar dari pembicaraan orang dewasa, kami menjadi tahu bahwa itu adalah bagian dari peralatan untuk berbicara dengan orang lain yang berada di tempat yang jauh. Kami  pun menyebutnya sebagai “telpon angin”. Beberapa anak-anak yang pernah mengintip pegawai pabrik karet berkomunikasi dengan telpon angin itu seringkali menambah cerita asyik yang tentu saja dibumbui sedikit “sok tahu”. Tapi itu tetap saja menambah kekaguman anak-anak lain dan tak habis pikir bagaimana bisa sebuah peralatan digunakan berbicara jarak jauh tanpa penghubung seutas kabelpun.

telepon angin ~gambar dari probertencyclopaedia.com~

Beberapa tahun kemudian (saya masih saja seorang anak-anak dan belum beranjak remaja), keluarga saya mulai berlangganan telepon rumah. Nomornya hanya 3 (tiga) digit. Untuk menelepon, tidak bisa langsung melainkan menghubungi dahulu operator di kantor telepon dengan cara memutar engkol di samping pesawat telepon.

telepon engkol ~gambar dari kedaibarangantik.blogspot.com~

Beberapa tahun selanjutnya, barulah telepon bisa digunakan untuk langsung menghubungi penerima telepon. Nomor telepon kami sudah berganti menjadi 5 (lima) digit dengan tiga angka terakhirnya masih sama seperti nomor terdahulu. Ada tombol putar di pesawat telepon itu yang digunakan untuk memasukkan nomor tujuan telepon, belum ada tombol pencet seperti telepon jaman sekarang.

pesawat telepon dengan tombol putar ~gambar dari barangtempodoeloe.com~

Ketika saya masuk SMA, telepon di rumah berganti nomor lagi. Kali ini ada tambahan satu angka di depan sehingga menjadi 6 digit. Pesawat teleponnya juga berganti menjadi tombol pencet. Nomor 6 digit ini bertahan sampai sekarang dan masih dipakai oleh ibunda saya untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya.

pesawat telepon modern ~gambar dari wikipedia~

Pada waktu saya bersekolah SMA di kota, saya kembali mengenal “telpon angin”, namun kali ini tidak lagi terheran-heran karena sedikit banyak sudah mengerti cara kerjanya. Waktu itu sangat populer sekali berkomunikasi dengan menggunakan radio komunikasi baik yang portable, mudah dibawa ke mana-mana misalnya sekelas handy talky, atau yang berkekuatan cukup besar dan dipasang di kendaraan, maupun yang fixed dengan tiang antena yang tinggi seperti telpon angin yang saya lihat semasa kecil.

HT ~gambar dari: http://myicomradio.blogspot.com~

Begitupun, pada waktu itu cara saya menggunakan radio komunikasi masih katrok banget. Maklumlah, pindahan dari desa, tidak mudheng bahasa gaul brik-brikan

Tahun 1997 ketika saya sudah mulai bekerja, saya benar-benar menggunakan telepon angin. Yang saya gunakan adalah Ericsson AH320 berteknologi AMPS. Sayangnya telepon angin saya ini hanya bertahan beberapa bulan saja karena masa itu adalah masa-masa terakhir teknologi AMPS digunakan di Indonesia, dan selanjutnya telepon angin berteknologi GSM-lah yang menguasai pasaran.

telepon angin saya yang pertama adalah ericsson-ah320 ~gambar dari esato.com~

Saya pun ikut-ikutan berganti telepon angin berteknologi GSM walaupun saat itu GSM masih berarti “geser sedikit mati” sehubungan dengan masih sedikit jaringannya.

telepon angin GSM saya yang pertama adalah ericsson-ga628 ~gambar dari lakuabis.com~

Setelah berganti-ganti mengikuti bermacam teknologi, melewati setengah dekade 2000-an saya menjadi sangat tergantung pada telepon angin. Ada masa cukup lama saya menggunakan telepon angin yang tidak hanya untuk telepon dan SMS melainkan juga digunakan untuk berinternet. Keadaan berubah, dan setelah saya memiliki akses internet yang cukup cepat serta tidak lagi sering bepergian, saya pensiun menggunakan telepon angin. Inilah telepon angin saya yang terakhir.

telepon angin saya yang terakhir adalah samsung-sgh-j200 ~gambar dari www.welectronics.com~

Beberapa waktu setelah pensiun menggunakan telepon angin, barulah saya menyadari bahwa saat ini dunia internet dan seluler hampir-hampir tidak dapat dipisahkan. Contohnya, bila ingin mempunyai sesuatu akun di internet, seringkali nomor seluler menjadi prasyaratnya. Hal ini membuat saya mau tidak mau masih “memelihara” nomor seluler lawas yang digunakan sesekali dibutuhkan atau saat bepergian. Dan saat memerlukan, saya pun ikhlas hati memakai telepon angin seadanya, jadul, dan hampir punah. Terkadang saya merayu-rayu anak saya untuk meminjam telepon anginnya yang cukup bagus walaupun belum termasuk teknologi terkini.

telepon angin anak muda: Samsung-Galaxy-Y ~gambar dari handphoneblog.com~

Menerawang jauh ke belakang, dan kembali ke masa sekarang, tiba-tiba saya merasa beruntung menjadi generasi yang menyaksikan perkembangan teknologi telepon angin yang sedemikian pesat dan mengagumkan…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

14 thoughts on “Telpon Angin (Tulisan Ke-1)

  1. wah, berarti keluarganya lumayan canggih to mas, sempat menangi telepon 3 digit dan belum menggunakan sistem otomat… wah wah wah…
    saya smp rumah belum ada listrik dan belum sanggup beli tipi, ndeso biyanget to maaas…

  2. Tekhnologi AMPS,…. saya juga pernah mengalaminya mas. Dan saat berhadapan dengan tekhnologi GSM terjadi perang jargon. Kalau memakai AMPS pasti terdengat tuut….tuut… tuuttt karena Anda Memutar Pasti Sibuk dan kalau memakai GSM pasti mati, karena Geser Sedikit Mati.

    Dan periode telepon angin, dengan ikon break…break…. di copy di monitor, saya juga pernah mengalami. Kadang sekarang ada kangen dengan break…break…. seperti itu namun situasi dan kondisi yang be,um memungkinkan. :lol:

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  3. walah, sekarang ketergantungan manusia terhadap ponsel malah sudah melebihi ktergantungannya terhadap benda2 lain, mas andy. bahkan, orang sering lupa makan gara2 sibuk berponsel ria, haks.

  4. telepon Angin terakhir itu saya menyebutnya TeGe = telepon genggam hehehe… benar sekali pak Sawali, djaman ini hampir dpastikan setiap orang punya TeGe dan sangat tinggi ketergantungannya terhadap TeGe ini. selain lupa makan jga bisa jdi lupa klo sedang nyopir djalan.. nabrak deh. hehehehe…

  5. Saya kelingan dulu jaman masih SD dibelikan oleh bapak seperangkat radio intercom yang masih pakai satu kabel tembaga dan satu ground. Terhubung ke seluruh jaringan intercom di kampung saya untuk brik-birkan, kalau malam buat komunikasi siskamling. Dulu di kampung pernah populer sampai hampir tiap rumah punya intercom layaknya jaman sekarang ada televisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *