Telpon Angin (Tulisan Ke-2)

Setelah kemarin saya bercerita tentang Telepon Angin, terbayang dalam benak saya, kemajuan teknologi radio rupanya telah berkembang dengan sangat pesat sekali. Kalau dulu hanya digunakan untuk kirim-terima kode sederhana (misalnya berupa kode morse), dalam perkembangan selanjutnya juga digunakan untuk kirim-terima suara, gambar, dan data. Bahkan karena semakin canggih dan mudah serta murahnya kirim-terima data, bila dulu sinyal analog yang digunakan untuk kirim-terima suara sering dimanfaatkan dengan ditumpangi data, sekarang jadi terbalik, data suara diubah menjadi kode digital dan dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket-paket data, dan bukan lewat sirkuit analog telepon biasa.

Sedemikian sibuknya lalu-lintas gelombang radio di udara, sehingga seandainya sinyal atau gelombang radio itu bisa dilihat, tentunya semakin zaman bertambah maju, semakin berkabut penglihatan manusia karena udara semakin penuh dengan lintasan beraneka macam gelombang radio.

semakin lama semakin ruwet

Teknologi wired, walaupun dalam banyak hal tak tergantikan, dalam banyak hal pula telah digantikan dengan teknologi wireless. Bila pada beberapa dekade sebelum ini wireless masih disebut sebagai teknologi masa depan, sekarang sudah bisa dinikmati kemudahannya dengan berbagai peralatan canggih.

wireless ~gambar dari bluevipers.tumblr.com, dimodifikasi~

Frekuensi telah menjadi komoditi yang diperebutkan. Para pelopor teknologi berlomba-lomba berinovasi memanfaatkan frekuensi, perusahaan penyedia layanan berebut menggunakan frekuensi, sehingga mau tidak mau diperlukan payung hukum yang jelas dan tegas yang mengatur penggunaan frekuensi.

Karena teknologi wireless tak mengenal wilayah, hanya mengenal jangkauan, tentunya sesuatu peraturan  tidak bisa begitu saja diterapkan di wilayah tertentu tanpa memperhatikan peraturan yang berlaku di wilayah lain bahkan peraturan yang bersifat internasional.

Di Indonesia, pengaturan alokasi spektrum frekuensi radio diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 29/PER/M.KOMINFO/07/2009 Tanggal 30 Juli 2009 di antaranya seperti berikut ini:

KODE

URAIAN PERENCANAAN DAN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI

INS1 Pita frekuensi 526.5-1606.5 kHz, dialokasikan untuk keperluan penyelenggaraan radio siaran analog AM (Amplitudo Modulation).
INS2 Pita-pita frekuensi 3200–3400 kHz, 3900–4000 kHz, 4750–4995 kHz, 5005–5060 kHz, 5900–6200 kHz, 9400–9900 kHz, 11600–12100 kHz, 13570–13870 kHz, 15100–15800 kHz, 17480–17900 kHz, 18900–19020 kHz, 21450–21850 kHz dan 25670–26100 kHz, dialokasikan untuk keperluan penyelenggaraan radio siaran High Frekuensi (HF)/Short Wave (SW).
INS3 Pita frekuensi 47–68 MHz dialokasikan untuk keperluan penyelenggaraan televisi siaran analog Very High Frequency (VHF).
INS4 Pita frekuensi 87.5–108 MHz dialokasikan untuk keperluan penyelenggaraan radio siaran analog Frequency Modulation (FM).
INS5 Pita frekuensi 174–230 MHz dialokasikan untuk keperluan penyelenggaraan televisi siaran analog VHF. Pita frekuensi ini direncanakan untuk keperluan penyelenggaraan penyiaran teresterial di masa datang.
INS6 Pita-pita frekuensi 259–260 MHz yang berpasangan dengan 389–390 MHz dan 343.1–345.1 MHz berpasangan dengan 357.1–359.1 MHz dialokasikan untuk keperluan akses radio warung telepon perintis dan Kewajiban Pelayanan Universal (Universal Service Obligation/USO).
INS7 Pita-pita frekuensi 287-294 MHz dan 310–324 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan pita lebar nirkabel (Wireless Broadband).
INS8 Pita-pita frekuensi 300–310 MHz, 324–328.6 MHz, 335.4–343.1 MHz dan 345.1–350 MHz dialokasikan untuk sistem komunikasi radio konvensional yaitu komunikasi dari titik ke titik (point to point) dan komunikasi bergerak darat (land mobile)
INS9 Pita-pita frekuensi 380–389.5 MHz berpasangan dengan 390–399.5 MHz, 407–409 MHz berpasangan dengan 417–419 MHz, 419–422.5 MHz berpasangan dengan 426.5–429.75 MHz dialokasikan untuk sistem komunikasi trunking analog. Pita-pita frekuensi tersebut direncanakan untuk sistem komunikasi trunking digital, dimana aplikasi sistem radio trunking yang baru harus menggunakan teknologi trunking digital dan sistem trunking analog yang ada akan disyaratkan untuk berubah ke teknologi trunking digital pada waktu yang akan ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel).
INS10 Alokasi pita frekuensi 409-417 MHz dan 422.5-426.5 MHz disiapkan untuk keperluan Perlindungan Umum dan Penanggulangan Bencana (Public Protection and Disaster Relief/PPDR) yaitu hanya untuk kegiatan penanganan dan pemulihan bencana alam yang terkoordinasi (Res. 646 WRC-03).
INS11 Pita frekuensi 438-450 MHz, 457.5-460 MHz dan 467.5-470 MHz ditetapkan untuk keperluan khusus Institusi Pemerintah.
INS12 Pita frekuensi 450–457.5 MHz berpasangan dengan 460–467.5 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak seluler. Hasil WRC 2007 pita frekuensi tersebut telah dialokasikan sebagai salah satu pita International Mobile Telecommunication (IMT).
INS13 Pita frekuensi 478–806 MHz (kanal 22–62) dialokasikan untuk penyelenggaraan televisi siaran analog UHF. Penggunaan Pita Frekuensi 478–806 MHz akan dikaji lebih lanjut untuk mendorong pemanfaatan spektrum frekuensi secara optimal bagi keperluan layanan penyiaran digital, layanan telekomunikasi dan layanan lainnya (konvergensi) di masa mendatang. Penyelenggaraan penyiaran digital direncanakan untuk penerimaan siaran tetap berbasis DVB-T, penerimaan siaran bergerak, siaran digital dengan kualitas tinggi (HDTV).
INS14 Pita-pita frekuensi 806–825 MHz berpasangan dengan 851–870 MHz dialokasikan untuk sistem komunikasi trunking analog. Pita-pita frekuensi tersebut direncanakan untuk sistem komunikasi trunking digital, dimana aplikasi sistem radio trunking yang baru harus menggunakan teknologi trunking digital dan sistem trunking analog yang ada akan disyaratkan untuk berubah ke teknologi trunking digital pada waktu yang akan ditentukan oleh Ditjen Postel.
INS15 Pita frekuensi 825–845 MHz berpasangan dengan 870–890 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak seluler dan penyelenggaraan telekomunikasi dengan mobilitas terbatas (Fixed Wireless Acces/FWA)
INS16 Pita frekuensi 890–915 MHz berpasangan dengan 935–960 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak seluler dan diidentifikasikan untuk IMT (hasil WRC 2003).
INS17 Pita frekuensi 1428–1452 MHz dan 1498–1522 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan pita lebar nirkabel (Wireless Broadband).
INS18 Pita-pita frekuensi 1518–1525 MHz , 1525–1559 MHz, 1610–1660.5 MHz dan 1668–1675 MHz, dialokasikan untuk penyelenggaraan komunikasi satelit bergerak.
INS19 Pita frekuensi 1710–1785 MHz berpasangan dengan 1805–1880 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak seluler dan diidentifikasikan untuk IMT (hasil WRC 2003).
INS20 Pita frekuensi 1710–1885 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak seluler dan diidentifikasikan untuk IMT (hasil WRC 2003).
INS21 Pita-pita frekuensi 1885–1980 MHz, 2010–2025 MHz dan 2110–2170 MHz merupakan core band IMT-2000 dan dialokasikan untuk penyelenggaraan telekomunikasi bergerak seluler.
INS22 Pita frekuensi 1980–2010 MHz dan 2170–2200 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan komunikasi satelit bergerak IMT-2000.
INS23 Pita frekuensi 2053–2083 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan pita lebar nirkabel (Wireless Broadband).
INS24 Pita frekuensi 2300–2400 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan pita lebar nirkabel (Wireless Broadband).
INS25 Pita frekuensi 2400–2483.5 MHz dialokasikan untuk penggunaan Wireless LAN, Wifi, akses Internet dengan pemberlakuan Izin kelas.
INS26 Pada pita frekuensi 2500–2520 MHz dan 2670–2690 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan pita lebar nirkabel (Wireless Broadband). Sedangkan pita frekuensi 2520–2670 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan satelit siaran (Broadcasting Satellite Service/BSS). Penggunaan pita frekuensi 2500–2690 MHz akan dikaji lebih lanjut dengan pertimbangan mendorong pemanfaatan spektrum frekuensi secara optimal bagi keperluan layanan telekomunikasi dan layanan lainnya (konvergensi) di masa mendatang.
INS27 Pita frekuensi 3300–3400 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan pita lebar nirkabel (Wireless Broadband).
INS28 Pita-pita frekuensi 3400–3700 MHz (downlink), 6425-6725 MHz (uplink), dialokasikan untuk penyelenggaraan komunikasi satelit tetap (Fixed Satellite Service/FSS) Extended C band.
INS29 Pita-pita frekuensi 3700–4200 MHz (downlink), 5925–6425 MHz (uplink), dialokasikan untuk penyelenggaraan komunikasi satelit tetap (Fixed Satellite Service/FSS) C band.
INS30 Pita-pita frekuensi 4400–5000 MHz, 6425–7110 MHz, 7125–7425 MHz, 7425–7725 MHz, 7725–8275 MHz, 8275–8500 MHz, 10700– 11700 MHz, 12750–13250 MHz, 14400–15350 MHz dan 21200– 23600 MHz dialokasikan untuk penggunaan frekuensi gelombang mikro (microwave link).
INS31 Pita frekuensi 5725–5825 MHz dialokasikan untuk penyelenggaraan pita lebar nirkabel (Wireless Broadband).
INS32 Alokasi pita frekuensi 5850-5925 MHz disiapkan untuk keperluan Perlindungan Umum dan Penanggulangan Bencana (Public Protection and Disaster Relief/PPDR) yaitu hanya untuk kegiatan penanganan dan pemulihan bencana alam yang terkoordinasi (Res. 646 WRC-03).
INS33 Pita frekuensi 10.154–10.294 GHz dan 10.504–10.644 GHz dialokasikan untuk penyelenggaraan pita lebar nirkabel (Wireless Broadband).
INS34 Pita-pita frekuensi 10990-11662 MHz (downlink) dan 13790-13862 MHz (uplink), 11150-11222 MHz (downlink) dan 13950-14022 MHz (uplink), 11490-11562 MHz (downlink) dan 14290-14362 MHz (uplink), 11650-11722 MHz (downlink) dan 14450-14522 MHz (uplink) dialokasikan untuk penyelenggaraan komunikasi satelit tetap (Fixed Satellite Service/FSS) Ku band.

Selengkapnya dapat diunduh di sini (640KB), atau langsung melalui sumbernya.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

9 thoughts on “Telpon Angin (Tulisan Ke-2)

  1. kang, kalau saya di geofisika kadang bekerja memanfaatkan pita frekuensi VLF (Very Low Frequency) di sekitar angka 1000 Hz – 3000 Hz dalam metode geofisika elektromagnetik Very Low Frequency. Gelombang ini dipancarkan dari pemancar radio frekuensi untuk kapal selam (dipakai oleh militer beberapa negara di berbagai belahan dunia). Jangkauan dari fixed transmitter yang di Jepang, Australia, Russia, Amerika Serikat bisa mencapai radius setengah dari keliling bumi (artinya juga melewati wilayah indonesia) apa ya pihak militernya harus ijin ke pemerintah Indonesia ya?

    • ada aturan internasional untuk pita frekuensi itu, artinya masing2 pemegang kekuasaan wilayahlah yang harus menyesuaikannya… (alinea 5)

      • Wah kalau begitu Indonesia boleh dong punya fixed transmitter untuk komunikasi kapal selam.
        *tapi listrik aja masih byar pet, mosok mau membangun instalasi transmitter 30.000 MW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *