Begitulah tiba-tiba muncul sebutan itu. Cantik, seksi, bersuara merdu, demikianlah bayangan kita bila mendengar kata Tiga Diva. Berikut cerita asyik tentang Tiga Diva:
Keluarga bapakku ada enam bersaudara, terdiri dari empat perempuan dan dua laki-laki. Yang pertama perempuan berumur 83 tahun, kami sebut “dhe Nah”. Yang kedua perempuan juga berumur 80 tahun, kami sebut “yu Nani”. Yang ketiga juga perempuan berumur 77 tahun, kami sebut “bek Lim”. Yang keempat bapakku almarhum. Yang kelima laki-laki berumur 67 tahun, kami sebut “mas Dul”. Yang terakhir perempuan lagi berumur 63 tahun, kami sebut “Mami Kamil”.
Kemarin, 28 Juli 2008, yu Nani berpulang ke Rahmatullah. Tidak ada duka mendalam, kami semua sudah ikhlas karena sudah 5 tahun ini beliau hanya berbaring di tempat tidur. Beliau meninggalkan tujuh orang anak, lebih dari 25 cucu, dan 4 orang cucu buyut. Kepergian beliau berubah menjadi moment penting karena sanak keluarga tiba-tiba berkesempatan untuk berkumpul. Maklumlah, kesibukan masing-masing orang selama ini membuat sangat sulit untuk saling bertemu. Ini menjadikan “kepaten obor”. Generasi yang lebih muda semakin lama semakin tidak mengenal leluhurnya.
Beliau yu Nani adalah satu-satunya saudara bapakku yang selama hidupnya tinggal di kampung halaman, bahkan sampai meninggal pun beliau berada di rumah yang dulu ditinggali nenekku (aku tidak begitu jelas, itu karena rumah nenek yang disusuki oleh yu Nani atau karena nenek yang ikut tinggal di rumah yu Nani -itu tidak penting-). Saudara-saudara yu Nani yang lain sekarang tinggal di berbagai kota, ada yang di Pati, Semarang, Ungaran, dan Makassar. Beliau yu Nani orangnya sangat religius dan sederhana, begitu pula anak-anaknya. Namun sungguh mengherankan, hubungan sosial beliau dan anak-anaknya ternyata cukup baik. Ini terbukti dari banyaknya pelayat yang hadir melepas kepergian beliau, juga banyaknya kiriman karangan bunga.
Sekarang, dari enam bersaudara tinggal tersisa seorang laki-laki yang tinggal di Makassar, dan tiga perempuan yang tinggal di Semarang, Pati, dan Ungaran. Di tengah keramaian melepas kepergian yu Nani, ada juga yang berolok-olok kepada tiga diva itu, “Wah… Habis ini giliran siapa ya?”
Kontan tiga diva itu berebut menjawab, “Aku yang terakhir aja deh!”
Hehehe…
Berikut jepretan ekspresi tiga diva:

Siapapun tak akan mengira bahwa tiga nenek-nenek keriput itu dulunya adalah kembang desa, kembang kota, kembang kampung, yang kecantikannya terkenal dari mulai dari Padang Pariaman, Solok, sampai Indramayu, Semarang, dan Lombok Barat???
hebat, 3-diva yang kompak selalu.
mungkin ini yang dinamakan sampai kaken-kaken dan ninen-ninen… he he he
selamat, semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan kepada beliau-beliau. Tidak menyusahkan bagi orang-orang tercinta disekelilingnya. Amien…
anjrit!, ketipu guwa..
kerem mas, keren!
heheeheheh boleh juga nih 3 diva yg ini…masih kuat nyanyi berapa lagu ya kalo ya ini..heheheheheh…semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan kepada beliau2 ini…
Ini koq mendo’akan yang egak2 ya… “sebentar lagi sapa yang akan menyusul” gak boleh gitu Cak
om andi,dadi kelingan diva akeh jasane kanggo dhewe dhewe,khususe aku:
dhe nah sing ngajari bisnis ngirim telo saka tampingan nganggo truk di dol neng ps bulu,baline kewengen nganti digoleki bapak
dhe lim ngajari ngundhuh walet ning juwana
mami sing akeh nyubsidi waktu sekolah
mugo2 jasa beliau2 dibales tikel2 karo gusti Allah,amin
jadi terharu membacanya….ingat kenangan masa kecil…semoga 3 diva sehat2 selalu dan diberikan kesejahteraan serta keimanan lahir bathin. dan muncul generasi 3 diva berikutnya. Amien