Ujung Tombak

Ujung tombak biasanya tajam dan runcing, kecuali tombak itu sudah berkarat atau tumpul alias bujel. :-D

Di tatanan pemerintahan kita, ujung tombak itu bukan pada kepalanya (kepala yang kita punya katanya mau memberantas korupsi tapi nyatanya korupsi malah menjadi-jadi), melainkan di tingkat Rukun Tetangga (RT).

Mereka (RT) sebetulnya adalah ujung tombak tatanan pemerintahan.

Jauh sebelum ada RT/RW, di banyak daerah di Indonesia sebetulnya sudah mempunyai tatanan yang rapi. Misalnya di Jawa, pemerintahan desa dipimpin oleh Lurah (Kepala Desa) yang membawahi perangkat desa atau pamong desa antara lain Carik yang bertugas sebagai Sekretaris Desa, Bayan tangan kanan Lurah yang dalam pelaksanaan pemerintahan khususnya mengenai ketertiban umum, Kepetengan atau Jogoboyo yang bertanggung jawab dalam urusan keamanan, Modin yang mengurusi bidang keagamaan, Ulu-ulu atau Ladu yang bertanggung jawab dalam urusan pengairan, Kamituwo yaitu pembantu Lurah dalam pelaksanaan pemerintahan desa di tingkat Dukuh atau Dusun, dan lain-lain. Tidak ada RT/RW di tatanan tradisional itu.

Setelah negeri ini bernama Indonesia, barulah ada yang namanya RT/RW yang diikuti dengan perubahan istilah misalnya Lurah dan Kepala Desa. Sepintas seperti sama saja namun dua istilah itu digunakan untuk keadaan yang berbeda. Lurah adalah Kepala Kelurahan. Biasanya berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Kelurahan sendiri biasanya ada di kota-kota. Tidak ada yang namanya pemilihan lurah karena  demokrasi di tingkat ini sudah dipangkas habis.

Di pedesaan, bentuk pemerintahannya bukan kelurahan melainkan DESA. Pemimpinnya tentu saja Kepala Desa yang dipilih secara demokratis. Kepala Desa tidak berstatus pegawai negeri sipil, juga tidak mendapatkan gaji melainkan mendapatkan bengkok atau garapan sawah yang hasilnya menjadi hak Kepala Desa.

Agak berbeda dengan kelurahan, di desa tatanan pemerintahan lawas masih banyak yang dipertahankan, sedangkan di kelurahan banyak yang dihilangkan menyesuaikan dengan keadaan dan diganti dengan beberapa Kaur (Kepala Urusan). Di bawahnya lagi barulah RW (Rukun Warga) dan RT (Rukun Tetangga).

Rukun Tetangga bukanlah termasuk pembagian administrasi pemerintahan, dan pembentukannya adalah melalui musyawarah masyarakat setempat dalam rangka pelayanan kemasyarakatan yang ditetapkan oleh Desa atau Kelurahan. Rukun Tetangga dipimpin oleh Ketua RT yang dipilih oleh warganya. Sebuah RT terdiri atas sejumlah rumah (kepala keluarga). Biasanya, setiap RT sebanyak-banyaknya terdiri dari 30-50 KK (Kepala Keluarga).

Banyak yang belum mengetahui bahwa sebetulnya tatanan Rukun Tetangga (RT) adalah warisan masa penjajahan Jepang. Waktu itu, untuk mempermudah pengawasan dan pengerahan penduduk, pemerintah Jepang membentuk Tanarigumi. Seperti sudah diketahui, Pemerintah Jepang di Indonesia dulu membutuhkan tenaga yang sangat besar jumlahnya untuk membuat benteng-benteng pertahanan, lapangan pesawat terbang darurat, jalan, dan jembatan. Pengerahan masyarakat sangat terasa dengan adanya Kinrohoishi (kerja bakti yang menyerupai kerja paksa). Oleh karena itu, pembentukan Tanarigumi (RT) dipandang sangat efektif mengerahkan sekaligus mengawasi aktivitas masyarakat.

Agak disayangkan dan agak aneh, walaupun Rukun Tetangga (RT) tidak masuk adalam pembagian administrasi pemerintahan, tapi keberadaannya diharuskan ada. Padahal mereka para ketua dan pengurus RT tidak mendapatkan gaji alias bekerja secara sosial saja.

Alhasil… Rukun Tetangga (RT) tidak hanya menjadi ujung tombak melainkan juga ujung tombok. Kalau ada kelebihan harus kembali ke warganya, kalau ada kekurangan harus siap nomboki. Celakanya kalau ada sedikit cacat dalam tugasnya banyak orang merasa tidak puasbahkan mencela atau maido. Jarang sekali ada ucapan terimakasih yang tulus. :-D

Catatan Andy MSE:

Tulisan ini sekaligus sebagai ucapan selamat bertugas dan terimakasih setulusnya kepada Pengurus RT 02C RW 003, Desa Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, yang baru dilantik menggantikan kepengurusan sebelumnya yang sudah habis masa jabatannya. 

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

19 thoughts on “Ujung Tombak

  1. Alhamdulillah RT saya dulu dan sekarang bagus. dulu RT-nya memang hobby jadi ujung tombok (lmao) dari ngecat trotoar sampai memasang lampu jalan dia sendiri. biarin aja toh dia orang kaya (LOL) , karena itu lah konsekuensi paling pahit dari RT. kalau punya usul yang berbau uang, sepertinya kalau mau terlaksana yah harus berkorban (tongue)

  2. Ketua RT sepertinya bukan lah jabatan, tetapi cenderung bentuk pengabdian dan kepedulian. Mantep pak Andi artikelnya, enak bacanya. :)

  3. RT/RW ini contoh orang yang ikhlas, lha piye, gak digaji tapi tanggung jawab dan dedikasinya melebihi mereka yang digaji negara, siap tombok pula

  4. Trims, yang saya butuhkan ada di sini. Sori kalo saya nggak komen tentang “tombak dan Tomboknya” saya butuh perangkat desa jaman dahulunya. Trims banget Kang……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *