Vastenburg

Annual Report: Keprihatinan Akhir Tahun

gambar dari http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?p=27060320

Akhir-akhir ini saya sangat tertarik soal pro-kontra alih fungsi benteng Vastenburg di Solo menjadi hotel. Di bengawan” target=”_blank”>mailing list Bengawan, komunitas blogger Solo, saya mencoba mengajak diskusi. Mungkin saja karena topiknya kurang menarik sehingga tidak banyak yang urun rembug. Mungkin juga karena memang perhatian mereka terhadap Kota Solo tidak begitu kental, lebih banyak memperhatikan dunia maya. Mungkin juga saya yang kurang pandai berbahasa sehingga kurang mengena. Berikut ini diskusinya:

Andy MSE
Di satu sisi, banyak yang membela karena menganggap Vastenburg adalah cagar budaya, (budaya sing ngendi aku juga bingung)… Di sisi lain, banyak juga yang oke-oke saja bila beralih fungsi menjadi hotel. (Ini terutama pendapat dari kaum investor, toh Vastenburg adalah warisan kolonial yang selama ini tidak ada
gunanya)…
Oke deh! Lupakan soal pro dan kontra, justru saya ingin mengajak sedulur sekalian untuk berdiskusi (kali ini serius), tentang siapa yang paling diuntungkan dan siapa yang paling dirugikan bilamana Vastenburg tetap begitu-begitu saja dan bilamana Vastenburg beralih fungsi.

Pertanyaan kuncinya adalah:
Vastenburg tetap begitu, siapa paling diuntungkan, siapa paling dirugikan?
Vastenburg beralih fungsi menjadi hotel, siapa paling diuntungkan, siapa paling dirugikan?

Mr.Bambang
Bangunan bangunan lama yang mengandung nilai sejarah biasanya memang masuk cagar budaya. Seperti kalau di Jakarta ada kawasan kota tua yang sampai saat ini terus dijaga bangunannya, tidak boleh direnovasi total kecuali kalau benarbenar rusak parah baru diperbaiki yang rusak saja dengan menyesuaikan bentuk asli. Kebanyakan bangunan tua yang dulunya kantor pemerintahan belanda itu dialihfungsikan sebagai museum. Tapi disitu juga ada kafe kafe bahkan diskotek.
Menjadikan benteng Vastenburg sebagai hotel sebenarnya akan membuatnya menjadi jauh lebih tertata dan menguntungkan secara komersial. Tapi keberadaanya sebagai tempat publik sekaligus cagar budaya menjadi sangat terbatasi.
Mungkin bisa diambil jalan tengah yaitu sebagai cagar budaya, kawasan publik untuk nongkrong, tempat poto poto dan sebagainya tapi tetap bisa menghasilkan keuntungan. Misalnya ya dengan mendirikan kafe kafe di situ. Sehingga wisatawan yang mengunjungi tempat itu bisa semakin betah menikmati suasana di situ. Di situ juga bisa dijadikan untuk
ajang seni dan sebagainya.
Eh, tapi saya belum pernah masuk ke benteng itu lo. Cuman lihat dari luar saja kalau pas lewat. Itupun dulu sepertinya kurang terurus, saya gak tahu seperti apa kondisi sekarang.

Andy MSE
Tidak sesuai pertanyaan… hehehe

Imron
NKRI ini juga warisan kolonial mas. Sistem drainase di Solo (dan juga kota2 di Indonesia lainnya) juga warisan kolonial mas. Hayo, dihancurkan semuanya kalau begitu. hahahahahhaha
UNTUNG dan RUGI, itu adalah pola pikir pemodal alias kapitalis. Berpikir soal untung dan rugi semata. BTW tawaran untuk diskusi ini cukup menarik sebenarnya, tapi janganlah dibatasi soal dengan keuntungan dan kerugian begitu dung.

Andy MSE
Kalau ada gunanya dipakai ya nggak apa-apa… misalnya stasiun sepur itu, bendungan, dll…
Pertanyaan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan sebenarnya kan bagian dari pemetaan untuk mencari solusi sikap. Bukan soal kapitalis atau enggak. Tawaran anda, metodenya gimana???

Wahyu Nurdianto
semoga benteng Vastenburg ga dihancurkan… terserah mau diapakan, pokoke tetep ngadeg.

Andy MSE
Wah… Wahyu ini termasuk kelompok ogah diskusi alias kelompok pokoke, hehehe

Hasssan
Kalo ini saya setuju dengan mas imron, emang jangan dibatasi konteksnya tentang untung rugi aja.
Sedangkan pendapat saya sendiri tentang benteng ini, kalo emang dijadikan hotel lebih mengarah ke komersial, gak terlalu bermanfaat untuk masyarakat solo sendiri.
Bercandanya: “Mendingan dihibahkan ke komunitas bengawan aja buat nongkrong2 sekaligus hotspotan. Lumayankan area seluas itu bisa buat nampung orang seribuan.wekekekek… *berharap*.”
Seriusnya: “Area sekitar situ kan banyak pusat-pusat perbelanjaan, banyak area yang sudah dibeton, jadi benteng ini dijadikan area terbuka untuk refreshing masyarakat aja, adal jangan dibeton juga, kasihan sama
air hujan yang gak bisa kembali ke Bumi gara-gara terhalang beton. Sedang bentengnya biar berdiri aja. Toh ada nilai sejarahnya. Save Solo, SAVE OUR EARTH!!!.”

Andy MSE
Usul Hasssan bagus sekali, trus pembatasan konteksnya gimana usulmu?

Hasssan
gini mas, kalo istilah untung-rugi lebih mengarah ke sisi ekonominya, padahal kan itu ada nilai sejarahnya. Diubah aja jadi manfaat banteng vastenburg. bisa manfaat dari sisi ekonomi, sejarah, budaya, lingkungan
dan lainnya. *usul lho…IMHO*

Benra
Kang hasssan: menulis di bagian awal ………..”sekedar menambahkan. disitukan tertulis kalo “Vastenburg adalah warisan kolonial yang selama ini tidak ada gunanya”, kalo sistem drainasekan ada gunanya…………..
dari statmen ini, saya menganggap vastenburg tidak seperti drainase yang ada gunanya jadi ya dihancurkan saja. tapi, kemudian kang hasssan menulis lagi di akhir postingannya “…………..Sedang bentengnya biar berdiri aja. Toh ada nilai sejarahnya”
Kalau saya sambungkan dua pernyataan tadi, sebenarnya kang Hassan mau bilang, meski warisan kolonial, vastenburg yang (sudah) tidak ada gunanya lagi itu, tetap saja biarkan tetap berdiri, karena ada nilai sejarahnya.
Nilai sejarah. Itulah konteksnya mas. Dan soal sejarah, maka yang dibicarakan bukan klah euntungan atau kerugian melainkan kemanfaatannya. Apa manfaat dari bangunan kumuh seperti itu? mungkin begitu pertanyaan yang diajukan berikutnya ya. ya biar belajar sejarah hehehehe. Sejarah kelam bangsa ini, agar kita tidak terperosok ke penjajahan lagi (meski kenyataannya kita tidak pernah merdeka ya).
Saya setuju dengan pendapat kang hasssan, agar benteng itu jadi kawasan terbuka. Masalahnya, tempat itu secara de jure adalah milik pribadi.

Dony Alfan
Vastenburg mangkrak karena sudah menjadi milik pribadi, jadi pemerintah/Pemkot tak bisa cawe2. Seandainya masih milik ‘negara’, saya yakin Vastenburg juga akan terkena proyek revitalisasi. Coba tengok betapa indahnya Balekambang sekarang, padahal dulu kumuh. Maka saya yakin, Jokowi akan melakukan hal yang sama seandainya Vastenburg itu masih milik negara. Tapi kenyataannya Vastenburg kan milik cukong.
Kalo Vastenberg itu jadi hotel, toh orang miskin seperti saya juga gak bakal berani masuk ke dalam hotel.Coba deh bandingkan dengan benteng Vredenburg Jogja, yang bisa menjadi tempat wisata, tempat publik. Kenapa kita tidak bercermin saja dari pengelolaan benteng Vredenburg.
Tapi, lagi2 Vastenburg itu milik pribadi, maka visi2 positif soal pengelolaan benteng masih seperti ilusi. Termasuk ilusi pula kalo sampeyan mengusulkan supaya Vastenburg itu dihancurkan, dan dijadikan pelacuran sekalian. Karena semua keputusan ada di tangan si cukong – yang sudah pasti lihai memainkan dadu dan kartu…
Vastenburg tetap begitu, yang diuntungkan tidak ada, yang dirugikan cukong.
Vastenburg jadi hotel, yang diuntungkan pemilik tanah dan hotel, Pemkot karena bisa menarik pajak lebih besar, dan pemuda2 nganggur di sekitar hotel karena bisa jadi bell boy, tukang parkir atau satpam. Yang dirugikan orang Solo maupun orang Indonesia yang tak ingin melupakan sejarah bangsanya.

Andy MSE
Yups… sangat menarik.. Dony Alfan sudah memberi gambaran lebih jelas…
Untuk menghindari diskusi yang beralih ke soal bahasa, bagaimana kalau pertanyaan siapa yang paling diuntungkan dan siapa yang paling dirugikan diganti dengan: “Siapa yang menerima manfaat/dampak positif paling banyak dan siapa yang menerima dampak negatif yang paling banyak bilamana Vastenburg tetap seperti itu, dan bilamana Vastenburg beralih fungsi menjadi hotel???

Diskusi selanjutnya terputus dan sudah tidak menarik lagi. Hanya ada dua tanggapan sebagai berikut:

Badoer
Biarlah benteng itu tetap ada, jikapun jd hotel, hotelny tetap menggunakan arsitektur luar, tanpa menghilangkan wujud aslinya.. Jdiny disni senang, disana senang “malah nyanyi”

yojinbo daigoro
Kalaupun itu mau dijadikan aset negara katanya dijual murah lho (isunya) cuma 500M kalo ada yang mau beli?
mestinya penjualan kaos itu digalakkan dan hasil penjualan jika mencapai 500M digunakan untuk menebus benteng itu atas nama warga SOLO…………ayo sopo sing rung nduwe kaose??? ndang tuku…

Catatan: Ternyata tidak mudah untuk mengajak diskusi dengan jernih, walaupun kepada komunitas blogger kota Solo yang seharusnya mempunyai perhatian yang cukup kepada kotanya. Bagaimanapun juga, saya masih mengharapkan banyak diskusi yang lebih memperhatikan Kota Solo di mailing list Blogger Bengawan .

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

18 thoughts on “Vastenburg

  1. Wah2, kok dipublish di sini ya. Nanti kalo ada pihak yang tidak berkenan dengan ‘ucapan’ saya gimana?
    Tapi tak apalah, semoga bisa urun pendapat (mumpung masih boleh berpendapat)
    Harusnya lebih banyak thread2 seperti ini, supaya blogger Bengawan juga peduli dengan lingkunganya

    Dony Alfan´s last blog post..Ngobrol Soal Blog di Radio

  2. Piye nek diskusi offline wae…aku tenanan saiki rodo males mbukak milis, wes tak stop kiriman seko milis nang emailku…

    Soal benteng, wingi aku karo nyonyahku liwat bangunan menyedihkan kuwi…nek menurutku yo mending dibangun hotel we malah iso migunani tumraping liyan, ning yo ojo di gempur kabeh, sisakan bangunan aslinya dan sediakan ruang bagi publik untuk mengakses… jadi dua2nya kecekel, disatu sisi unsur melestarikan cagar budayanya masih ada, tapi disisi yang lain person yang udah keluar duit banyak buat membeli benteng itu bisa balik modal, dan sopo ngerti nang hotel kuwi sesok iso dinggo pesta kawinan kan aku iso melu nggolek duit nang kono, hehehehe… Nah masalah pelaksanaannya itu gimana, yo kuwi dudu urusanku…

    Tukang Nggunem´s last blog post..Idealis dan Pelacur

  3. yang banayak nerima manfaatnya pertama yang jelas para investor dan pemilik tanah……. dan pemerintah untuk pajaknya…… Kalau warga solo nantinya tergantung bisa memnfaatkan fungsi benteng yang telah dirombak natinya atau tidak…… Benteng tidak diapa2kan aja juga tidak ada manfaatnya kan buat warga solo kecuali bangunan tersebut ada nilai sejarahnya……. hehehe…..Ngomong2 benteng tersebut adanya dimana sih?????aku kan ga tau juga…..kekekeke….

    afrianti takaful´s last blog post..Bedanya Asuransi Murni Proteksi dengan Investasi

  4. jujur saja mas, saya selama ini tidak pernah memperhatikan Vastenburg.
    kalau menurut saya yang diuntungkan secara materi ya investor. apa hidup harus selalu berorientasi materi?
    yang dirugikan kita dan anak cucu yang tidak bisa melihat peninggalan sejarah. kayaknya asyik tuh kalau kota memiliki banyak peninggalan sejarah. kota modern tapi tetap melestarikan peninggalan sejarah. solusinya saya nggak tahu lha wong saya cuma bisa komentar doang.
    katanya the spirit of java, nggak nyambung ya…

    endar´s last blog post..Rasa iri

  5. Hanya sekedar urun rembug dari orang yang tidak tau apa-apa.

    Yang namanya cagar budaya memang harus dilestarikan, karena merupakan jejak-jejak jaman yang berfungsi untuk pelajaran bagi manusia sesudahnya.
    Kata Pak Eko Budiharjo: “Kota tanpa bangunan tua merupakan kota yang sudah gila”

    Biasanya sech pemerintah gak mau keluar uang tuk memelihara bangunan tua yang sudah bobrok, karena tidak mendatangkan uang. Jadi syah-syah saja apabila ada pihak swasta yang ingin membantu dengan mengalihfungsikan sesuai dengan kepentiangan bisnisnya.
    Hanya saja perlu dibuat perjanjian bahwa investor tersebut tidak boleh mengubah bentuk bangunan atau merenovasi kecuali atas seijin pemerintah dan ahli sejarah.

    nuwun

    Pencerah´s last blog post..Wakil/Pengkhianat Majikan ?!!

  6. menurutku, benteng vasterberg adalah peninggalan penjajah belanda.
    dan ini beda dengan peninggalan yang berupa bangunan 2 lain seperti saluran drainase atao pipa2 air serta minyak DLL, pokoknya yang bermanfaat pada saat itu dan saat ini.
    lha vasterberg lebih dulu banyak untuk bercokolnya para penjajah, juga untuk penyiksaan para tawanan belanda.

    ciwir´s last blog post..OBSESI

  7. Benteng Vasternburg jangan di hancurkan….
    kalau mau bangun hotel di tengah2 benteng aja,sekalian promo sama wisatawan yang menginap di hotel tersebut…
    tetapi entar saya di kasih pendapatannya yaw….?

  8. Beteng Vastenberg :

    ANAKRONISME
    dan
    ‘Nuting jaman kelakoné’

    Oleh : Ki Rekso Kanigoro

    Sikap mental anakronisme adalah kebalikan dari sinkronisme atau sinergisme. Artinya, Anakronisme ini sebuah kalimat pelembut bagi orang-orang yang nggak menghargai sejarah. Mereka lahir dari system ‘The Time Tunel’ (mak bedunduk-ujug2 lahir dari batu). Ini hanya suatu Ilustrasi dari pemahaman kita terhadap keberadaan kita sendiri. Di Kota apa, di Negara apa. Mau dibiarkan saja apa-apanya, dong. Menurut pandangan saya, siapa lagi yang mau ngebelain runtuhnya kultur kita jikalau kita semua pada apatis, kagak peduli, pada Kotanya sendiri – bagian dari Negeri tercinta NKRI? Solo, adalah sejarah ‘lajer-nya kekuasaan dan pemerintahan dan kultur rakyatnya- dari sejak ‘jo-mbejuja’. Minimal sejak jaman Kerajaan2 Majapahit-Demak-Pajang-KuthoGedhe-Plered-Kartosuro-Surokarto….. Artinya, kita harus ‘conserve’-berjaga-jaga- jangan sampai sadar nggak sadar-peduli nggak peduli– melakukan pembiaran tehadap terjangkitnya wabah ‘brainwashing’ kultural kita (meng-amputasi ingatan kolektif kita, agar kita kehilangan ingatan)— yang mungkin -bukan mustahil-memang diupayakan secara tersamar namun sistimatis – untuk dilakukan operasi DISKULTURISASI JAWA INDONESIA… Ini bukan soal ‘ewo’ margo kalangan -kalangan investor itu dho sugih. Tapi kita coba ingat Mengapa disekitar tahun 1990an Ditengah -tengah kompleks angunan Karaton Solo mau didirikan Hotel pula? Sekitar tahun 1992, maka bangunan Pemajegan, Pekapalan, dan Balai Agung (bagian penting dari bangunan Karaton) telah digempur , untuk dijadikan Benteng Plaza…(yang waktu Solo ‘ber-Anoman Obong’ juga ikut terbakar) ? Disekitar tahun itu juga telah dilakukan pembuatan Kios2 yang diskultur disalahsatu bagian dari Masjid Agung Surakarta Hadingrat. Beberapa Tahun yang lalu, Gedung Putera di Jalan Slamet Riyadi juga digempur, dan sekarang sudah jadi Mall. Di bagian utara Karaton – yang kalau mau memperhatikan UU. No. 5 Th, 92 tentang Cagar Budaya, maka lokasi tersebut sebenarnya masuk dalam kategori LINGKUNGAN BINAAN CAGAR BUDAYA – toh sekarang telah bertengger pula bangunan modern ya apalagi kalau bukan Mall…(Pasar NON Tradisional) ————————-

    Sebenarnya banyak bahan saya untuk bersama-sama ‘ngudoroso’ untuk ikut MENEGAKKAN UNDANG-UNDANG…. tetapi ini saya ngantuk. Jadi tak pulang dulu..kapan2 disambung lagi. Dibawah ini sekedar catatan2, yang bisa dikembangkan sebagai materi diskusi…. Nuwun

    *** Prostitusi Intelektualitas ilmiah dari suatu Institusi Penelitian dan Pembaktian Masyarakat suatu Universitas, untuk melengkapi perangkat procedural Persyaratan AMDAL sebagai upaya melegitimasi suatu Proyek yang menabrak Cagar Budaya dan Lingkungan Binaan Cagar Budaya – misalnya, sungguh merupakan sikap komersialitas yang kerdil dan mempermalukan nilai-nilai keilmiahan itu sendiri.

    *** Meng-implementasikan Monumenten Ordonansi 238/ Th. 1931, SISKS. PB.X memaklumatkan Angger-angger nya dengan kalimat demikian :
    “Wewangunan kang wis paroning abad, haywa binabad, becik mulyakno kareben hawangun”

    Artinya peradaban jaman sekitar tahun 1930an pun, bangsa kita sudah cukup tanggap, untuk menghargai konservasi, (preservasi-rekonstruksi-konservasi dan revitalisasi) – secara positif & konstruktif.

    Monumenten Ordonansi 238/ Th. 1931 bukan cuma bikinan Belanda.

    Oleh sebab itu ada ungkapan Jawa yang berbunyi: “Sapa nyemak babad, nalar lumajad, sing nlesih sujarah, ati jumangkah”.

    UUD ’45 : Bab VI. tentang Pemerintahan Daerah,
    Pasal 18, angka Rom. II,

    Pada prinsipnya mengakui bahwa Negara Republik Indonesia menghor mati kedudukan daerah-daerah yang memiliki susunan adat asli (‘Zelf besturende landschappen dan Volksgemeenschappen’) yang oleh karena nya dianggap bersifat istimewa. Maka segala Peraturan Negara yang mengenai Daerah-daerah itu akan mengingati hak-hak asal usul daerah tersebut.

    Adapun bunyi UUD Hasil Amandemen 2002,
    Bab VI. tentang Pemerintahan Daerah Pasal.18B ayat II.

    ‘Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-undang.”

    UU RI No.32 – 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
    BAB I . KETENTUAN UMUM Pasal 2 – Ad. 9.

    “ Negara mengakui dan menghormati kesatuan2 masyarakat hukum adat beserta hak tradi sionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prin sip NKRI. ”

    Maka sesuai dengan spirit ‘gestlichen hintergrund’ atau semangat makna spirit bathin tujuan konstitusi yang konstruktif, maka peranan dan fungsi Eksekutif /Legislatif/Yudikatif, diwilayah OTDA tetap punya bargaining dan power yang kuat dan jelas untuk melakukan prakarsa pendekatan rekonsiliasif konstruktif secara persuasif maupun dengan tegas dan ‘teges’ sebagai Pengemban amanah kemaslahatan Wilayah dan masyarakat umum.

    SK. WALIKOTA No. 946- 1997 ? Tentang Daftar Benda Cagar Budaya di Kota Solo

  9. Wah. Sugeng ndalu Dèn Andy. Panci leres menawi radi kepanjangen. Ewo semanten lir -ipun mbokbilih wonten ’empan papan-ipun’. Amargi menawi sasaranipun para putri kenyo ngujiwat ingkang marnis dasar dekik pipinipun…… sok ‘mbalak’ sakalangkung remen menawi bongso ingkang ‘panjang2’….uhkx.
    Lha inggih. Jan -ipun kita menika semakin prihatos-was2-lan sangsoyo pesimis….. Amargi kabar trend-ipun Hotel Bertingkat tinggi itu agaknya semakin mendapatkan legalitas yuridis formal-ipun. Crito kulo kapengker puniko hamung ngaturaken kahanan ingkang sampun kelampahan saha ancaman diskultural dan dis-konservasi yang semakin menampar para penegak UU BCB…….. Ah nggih sampun. Mugi2 hing malem Jum’at punika poro Leluhur kersaa sami nglenggahi panjenengan sedaya.hiii. uhk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *