Violence Roadshow

Sederhananya, roadshow itu sama dengan berkeliling menunjukkan atau memamerkan sesuatu. Seringkali digunakan untuk mempromosikan sesuatu, atau untuk melakukan diseminasi sesuatu hal baru. Yang jelas, lebih banyak digunakan untuk hal yang positif.

Bagaimana bila yang dikelilingkan, dipertunjukkan, dan disebarluaskan itu adalah kekerasan???

gambar didapatkan atas petunjuk Google

Entahlah!… Yang jelas, ini mengerikan. Namun, itulah yang sedang terjadi di Indonesia saat ini, bukan akhir-akhir ini saja melainkan sudah cukup lama. Selalu saja bila ada kasus nasional, pertunjukan keliling berupa kekerasan dimulai.  Seringkali berupa konflik horisontal. Sering pula dengan menggaungkan isu yang sebetulnya ~sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya~ jauh dari kepribadian bangsa Indonesia. Terorisme, sentimen agama, urusan ekonomi,  urusan perut dan sandang pangan, bahkan sentimen antar RT atau antar seporter bola, kerap menjadi materi pemanfaatan terselenggaranya violence roadshow.

Walaupun jelas terasa, saya tidak menuduh siapa dalang atau otaknya. Saya hanya bisa mendoakan semoga yang bertanggungjawab atas roadshow itu kutilen sekujur tubuhnya. Bilamana ini hanya bagian dari usaha melanggengkan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara ~taktik politik main kayu~, sungguh sangatlah rendah derajat orang-orang yang berbuat demikian. Sungguh kasihan yang menjadi korban.

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

26 thoughts on “Violence Roadshow

  1. skrng, para pelaku sinetron bukan hanya para petinggi negara saja, tp rakyat lah yg saat ini menjadi pemeran utama sinetron, terlepas “entahlah” siapa yg menjadi sutradara dibalik sinetron tsb. eheemmm trend 2011 di negeri ini sepertinya episode #roadshowviolence (doh)

  2. smga apa yg trjdi ahir2 ini,menjadikn kta lbh introspeksi diri sendiri,jgn menyalahkn siapapun,kta hrs brstu membgun bngsa ini brsma2.

  3. aahh… semoga semua orang sadar bahwa mereka TIDAK SEMPURNA. dan tidak perlu merasa sempurna. sehingga saling menghargai sesuai dengan sila ke lima.

  4. Pingback: Saya Anti Demokrasi | KECaKOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *