Wedhus!!!

Untuk ke sekian kalinya saya kembali mendengarkan kata “wedhus“… Dalam bahasa Indonesia wedhus adalah kambing. Namun, bila diucapkan dengan nada mengumpat, pastilah kata “wedhus” sangat tak enak didengar.

Mbah Man, lelaki tua berusia 79 tahun pemilik wedhus-wedhus itu rupanya sudah terbiasa mendengarkan umpatan orang, sehingga semua kata-kata orang yang bertemu dengannya baik yang bernada ramah maupun yang bernada umpatan ditanggapinya dengan tersenyum.

Sumber dari kata bernada umpatan itu karena wedhus-wedhus Mbah Man yang jumlahnya ada dua puluh enam rajin membuang kotoran di banyak tempat di sepanjang jalan saat dibawa ke tempat penggembalaan. Banyak orang merasa terganggu dengan sebaran kotoran wedhus itu walaupun sebetulnya hanya sedikit menguarkan bau.

Bukan hanya kotoran wedhus yang tersebar di sepanjang jalan yang dikeluhkan banyak orang. Bau kambing yang menguar tajam dari lingkungan rumah dan kandang wedhus Mbah Man juga tak satu dua kali dikeluhkan orang baik yang sekedar lewat apalagi yang tinggal di rumah-rumah bagus di sekitarnya. Bahkan pohon Trembesi besar yang tumbuh di pojok pekarangan di dekat kandang wedhus juga pernah dikeluhkan karena rontokan dedaunannya yang sudah mengering dianggap mengotori pekarangan dan genting-genting rumah di sebelahnya.

Mbah Man tentu saja tak bisa disalahkan. Rumah dan kandang wedhusnya yang terletak di ujung gang di dekat lapangan sepak bola sudah berdiri di sana sejak tahun 70-an, jauh sebelum kampung ini ada.

gembala kambing ~gambar ilustrasi dari : http://solusiayurveda.wordpress.com~

Menurut cerita Mbah Man, dulu rumah dan kandang wedhusnya terletak di tengah persawahan. Perkampungan terletak kira-kira 500 meter di sebelah utara. Seiring dengan perkambangan jaman, persawahan pun sedikit demi sedikit berubah menjadi permukiman sehingga rumah dan kandang wedhus Mbah Man sekarang terletak di tengah perkampungan. Persawahan yang tersisa sekarang ada di sebelah selatan dusun kira-kira satu kilometer jauhnya. Di sana, di tepi persawahan di sepanjang tepian sungai, adalah tempat Mbah Man menggembala wedhusnya kira-kira sejak 40 tahun yang lalu.

Jalur yang dilewati Mbah Man untuk menggiring wedhus-wedhusnya ke tempat penggembalaan juga masih sama walaupun wedhus-wedhus yang digembalakan sudah berganti-ganti entah berapa generasi. Dari rumah Mbah Man, ke arah timur kira-kira 200 meter, selanjutnya berbelok ke arah selatan kira-kira satu kilometer. Yang berbeda, kalau dulu hanyalah jalan setapak di tengah persawahan disambung jalan antar kampung yang sepi, sekarang sudah menjadi jalan semen dan jalan beraspal hotmix. Di beberapa titik di jalur itu, ada tempat-tempat dimana selalu saja wedhus-wedhus Mbah Man buang kotoran atau berhenti sebentar mencari camilan. Tempat-tempat itu selalu sama, mungkin perilaku itu diturunkan oleh para leluhur wedhus-wedhus Mbah Man dari generasi ke generasi.

Begitulah rutinitas Mbah Man yang sempat diceritakan saat tadi malam saya bertemu Mbah Man di rapat rutin warga RT. Walaupun masih banyak tersenyum, Mbah Man menambahkan cerita bahwa sudah seminggu ini beliau agak berduka. Dua wedhusnya  harus disembelih agar dagingnya tak mubadzir karena dikhawatirkan wedhus itu akan mati setelah menunjukkan tanda-tanda kurang  gizi. Tak kunjung gemuk padahal sudah diberi makanan bergizi secukupnya, tak bersemangat padahal sudah diberi tempat sebaik-baiknya. Untung hanya dua wedhus, tidak semuanya.

Selidik punya selidik… Setelah disembelih barulah ketahuan bahwa wedhus Mbah Man sebetulnya tidak sakit melainkan hanya terganggu pencernaannya karena makan PLASTIK.

Barangkali, plastik-plastik itu diperoleh para wedhus dari tong sampah warga dimana para wedhus suka mencari-cari camilan lain selain rumput saat digiring ke tempat penggembalaan melewati gang-gang perkampungan tempat banyak orang sering mengumpat “WEDHUS!!!”…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

32 thoughts on “Wedhus!!!

  1. Jare wong2…
    Wedhus sing mangan plastik atau tas kresek, nek disate kemripik dan renyah…
    Tapi ojo diomongke Mbah Man, mengko marakke weduse entek…

  2. mesaknee, sakin sulitnya mencari makan, tuh wedhus nekad makan plastik… Dasar wedhus… wedhus

  3. Wedhus !!
    aku jug asering mendengar kata ini sering di ucapkan. Nadanya tergantung yang mengucapkan, dan kebanyakan nadanya juga mengarah ke umpatan meskipun itu hanya sekedar guyonan. :?

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  4. jujur saja mas andy, saya baru tahu arti kata wedhus dari sinetron “para pencari tuhan” (tongue) … penasaran pak RW selalu mengumpat Wedhus … dulunya sering denger sih orang ngomong tapi tidak tertarik ingin tahu artinya. seperti “kirik”-nya bahasa cirebon (LOL), lamaaaa sekali saya baru tahu kalau artinya ternyata gukguk (lmao)

  5. Cerita yang sangat menarik dan juga menyentuh. Tapi, saya salut terhadap Mbah Man. Walaupun orang-orang mengumpat dengan kata-kata wedhus, tetap ditanggapi dengan senyuman.

  6. lha nggeh tho, kalau permukiman makin padat begini, tapi ndak ada lahan buat gembala kambing, mau kemana lagi mainnya kambing – kambing Mbah Man selain ke gang – gang samping rumah warga ….
    Kulo nuwun Pak Andy, lama tak jumpa. :)

    Salam
    Nor (temennya mbak Nenden, Yu Ari, dkk.)

  7. Cerita yang kaya makna dan penuh kearifan lokal tentang wedhus.
    Lain cerita tentang wedhus di Batam, disini kota metropolis sudah hampir seperti ke-singapura-pura-an. Gitu..
    Ketika saya mengajarkan tentang riset kata kunci google, saya mencontohkan kata kunci “kambing sumbawa”
    Weleh,,, anak-anak malah pada ketawa malu, dan si anak yang saya perintah menulis “kambing sumbawa” merasa risih dengan term “kambing sumbawa”.
    Wuh dasar anak kota …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *