widi heriyanto

Widi itu temanku. Dulu tinggal di lain kecamatan. Widi di Limbangan, aku di Boja. Keduanya masuk wilayah Kabupaten Kendal. Kami bertemu di SMPN Boja dan berteman sejak bersekolah di SMP itu (sekelas di kelas I-D).

Setelah lulus SMP, kami sama-sama diterima di SMA Negeri 3 Semarang (SMA Negeri paling jagoan di Semarang), tapi tidak satu kelas. Eh… pernah juga satu kelas waktu di kelas 2A-3.1 (Jurusan IPS). Di SMA itu kami punya geng kecil beranggota 4 orang yaitu Aku, Widi, Hastono, dan Heriyanto. Dua nama yang terakhir tinggal di kampung Banowati Semarang Utara (terkenal banget sejak dulu hingga sekarang sebagai kampung gali).

Ada hal paling konyol yang pernah dilakukan empat sekawan ini. Sewaktu merayakan keberhasilan diterima Sipenmaru, kami berempat berlari-lari keliling Tugu Muda pada tengah malam dengan hanya mengenakan celana dalam. Aku diterima di Ekonomi Undip, Widi diterima di Humas Unpad, Hastono dan Heriyanto diterima di Sejarah Undip. Artinya, walaupun konyol kami tetap pinter kan?
Tahun 1997 ketika bekerja di sebuah perusahaan eksportir kopi, aku mengajak keluarga pindah ke Limbangan (desane Widi). Dua tahun kemudian, tahun 1999, Widi yang tadinya berdomisili di Bandung balik kampung bersama keluarganya. Dan dua tahun berikutnya, tahun 2001, setelah di-PHK dari pabrik kopi, aku bergabung dengan Widi mendirikan Sekolah Rakyat.

Sampai sekarang, walaupun aku sudah berdomisili di Solo, masih sering berkegiatan bersama. Namun, Widi tidak seperti dulu yang selalu berpenampilan kalem. Sekarang dia suka berambut gondrong dan memakai blangkon atau iket Jawa. Mungkin karena “ter-obsesi jadi Damarwulan”, hehehe…

Dimana Hastono dan Heriyanto???… Aku cari dulu ya!…

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

4 thoughts on “widi heriyanto

  1. Widi temanku masa kuliah. Ada satu hal yang sampai sekarang jika ingat pengin ketawa. Waktu itu aku disuruh pura-pura jadi pacar Widi ketika berpapasan dengan mantan pacarnya – Ani di daerah Simpang Dago. “Rin, Rin, pegang jaketku, biar aku dikira sudah punya pacar.” Kita juga sering jalan bareng, tepatnya ketika aku ikut Widi dalam kegiatan pendampingan masyarakat. Pernah waktu itu, tengah malam aku ketakutan banget ketika ditakut-takuti sama Ivan Garda plus Widi, ada hantu di sekitar hutan tempat perjalanan kami.
    Menurutku, Widi orangnya sangat baik dan sudah aku anggap jadi kakakku sendiri. Kebetulan isterinya Widi, Khusnul Chotimah juga merupakan sobatku. So, salam kenal dulu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *