Bulldozer dan Excavator di Tepi Telaga Cebong

Tulisan ini sebetulnya diberi judul Wisata Blogger 2009: Appendix-2 | Bulldozer dan Excavator di Tepi Telaga Cebong, namun berhubung ada beberapa di antara pembaca yang konfius dengan istilah usus buntu, maka judulnya terpaksa diganti…

:-D

Mungkin tidak banyak yang menaruh perhatian pada dua unit alat berat yang diparkir di tepi Telaga Cebong (bukan Cebong Ipiet) di Dataran Tinggi Dieng pada Minggu pagi 25/07/2009 yang sedang ramai dikunjungi peserta Wisata Blogger 2009. Mungkin juga sudah banyak yang bertanya-tanya dalam hati tentang keberadaan bulldozer dan excavator itu. Saya juga bertanya-tanya…

Namun, berbeda dengan sebagian peserta Wisata Blogger 2009 yang menjadikan alat berat itu sebagai obyek berfoto-ria yang menarik (karena alat berat tidak musti dilihat setiap hari, apalagi dinaiki), saya meneruskan pertanyaan dalam hati ke mulut dan saya sampaikan kepada operator alat berat yang  –di pagi yang dingin padahal matahari sudah meninggi itu– sedang menyiapkannya untuk bekerja.

Ternyata, alat berat itu digunakan untuk mengeruk telaga yang makin lama luasnya makin  menyempit. Pengerukan itu dilakukan sampai batas tepi air telaga kembali ke posisi semula, entah menurut catatan tahun berapa. Yang jelas, semakin hari semakin deras laju pengikisan tanah dari bukit-bukit di sekeliling telaga. Menyalahkan berkurangnya tanaman keras tentu saja tidak bisa dilakukan begitu saja. Maklumlah, di dataran setinggi Dataran Tinggi Dieng, juga di puncak-puncak gunung yang tinggi, memang biasanya hanya terdapat sedikit tanaman keras. Biota dan ekosistem di gunung dan dataran tinggi jelas berbeda dengan dataran yang lebih rendah yang lebih memungkinkan tanaman keras tumbuh dengan subur.

Panorama Telaga Cebong -gambar dari Panoramio oleh Aganto Seno

Ditengarai, laju erosi yang tinggi itu berkaitan dengan pengolahan lahan untuk keperluan pertanian. Areal yang sebelumnya penuh tertutup rerumputan, semak belukar, perdu, dan sedikit tanaman keras yang secara alami memperlambat laju erosi, ketika dialih-fungsi menjadi lahan pertanian mau tidak mau dibersihkan. Pasti ada jeda di sela musim tanam dimana dilakukan pengolahan tanah yang menjadikan lahan dalam keadaan terbuka. Bila pada saat itu turun hujan, dipastikan erosi merajalela…

Pendapat saya, sepertinya, hal itulah yang mempercepat pengendapan yang memperdangkal serta menyempitkan telaga. Langkah preservasi yang diambil pemerintah setempat untuk menyelamatkan keberadaan telaga dengan pengerukan itu merupakan langkah yang cukup baik dan sementara ini tepat. Namun, untuk menuju  ke titik permasalahan sebenarnya yaitu dengan “mengusik” pertanian, sepertinya “bagai makan buah simalakama”. Banyak kepentingan ekonomi di sana, banyak kehidupan bersandar dan bergantung padanya.

Apa pendapat saudara???

=========>>

Catatan Andy MSE:

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. (Wikipedia)

Biota adalah keseluruhan kehidupan yang ada pada satu wilayah geografi tertentu dalam suatu waktu tertentu. Pembatasan luas wilayah geografi atau cakupan waktu dapat bersifat lokal atau sesaat hingga keseluruhan planet atau rentang waktu yang panjang. (Wikipedia)

bulldozer and excavatorBulldozer atau Crawler adalah alat berat yang digunakan untuk mengeruk dan meratakan lahan. Ciri khas: mempunyai sekop lebar untuk mengangkat, mendorong, dan memindahkan material.

Excavator atau Digger adalah alat berat yang digunakan untuk mengeruk dan menggali. Ciri khas: walaupun tidak termasuk bangsa gajah, excavator mempunyai belalai yang digerakkan secara hidrolis dimana di ujung belalai itu terdapat sekop pengeruk untuk memindahkan material.

Gambar “mejeng di alat berat” diambil dari Facebook Emi Fa

Simak pula: Launching Blogger Wonosobo dan Rusaknya Lingkungan Dieng

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

61 thoughts on “Bulldozer dan Excavator di Tepi Telaga Cebong

    • bukang kang! itu telaga cebong di dekat terminal sunrise di kaki bukit sikunir… telaga warna menjadi persinggahan setelah dari telaga cebong. silahkan simak cerita sebelumnya tentang dataran tinggi dieng… (yahoo)

  1. Menurut saya, jika memang pertanian disana penting, maka pemerintah daerah berusaha untuk memberikan lahan baru. Itupun jika pemerintah daerah ingin menjaga danau tersebut. Jika tidak, buldozer dan excavator akan menjadi pemandangan tetap disana.

    • maaf mas Estiko!… pertanian jelas penting, itu nyangkut soal ekonomi kan? lahan baru dimana? lha pertanian di sana paling banyak tanam kentang yang memang cocoknya di dataran tinggi. padahal, pembukaan lahan baru di dieng justru semakin menambah tinggi tingkat erosi… bagaimana caranya melakukan preservasi terhadap danau? apa harus dikeruk terus setiap tahun??? padahal lagi! danau itu juga penting selain untuk kelangsungan ekosistem juga untuk pariwisata… (thinking)

    • itulah yang saya maksud dengan buah simalakama… hampir semua bukit2 di dieng sudah dikuasai lahan pertanian (terutama kentang). bilamana tidak dekat danau pun, akan berpengaruh pada sumber2 air yang ada di sana…

    • mungkin perlu diterapkan suatu zonasi, misalnya ada zona inti, zona penyangga, dan zona pemanfaatan. pola ini biasa saya, dkk terapkan pada pendampingan masyarakat sekitar hutan di desa limbangan, kendal… juga pernah digunakan untuk pendampingan masyarakat nelayan untuk perlindungan terumbu karang.
      ternyata efektifitasnya banyak bergantung pada partisipasi masyarakat, bukan pada sebaik apa aturan yang dibuat.
      di dieng agak berbeda, karena penguasaan lahan ada pada petani, bukan merupakan tanah negara.

  2. Salam kenal MAs….
    Itu alat2 paling familier di kantorku deh….aku lebih suka menyebut bulldozer dan back hoe.
    Btw, seberapa efektif sih itu alat kalau harus mengeruk sedimen danau yg tentu saja mempunyai kedalaman tertentu. JAdi khan paling2 cuma ngeruk tepiannya doang. Sedimentyasi memang menjadi masalah paling serius pada bidang pengairan di negeri ini, mulai dari Danau, waduk, sungai bahkan drainase perkotaan.
    .-= mas8nur´s last blog ..Takut H1N1 =-.

    • betul mas! masalah serius tapi penanganannya cukup sulit karena selalu saja terkait dengan hajat hidup orang banyak… :-) *kalau di kampungku, dua alat itu disebut doser dan begu* (LOL)

  3. Telaganya ga bisa dibikin permanen aja ya?

    oke terdengar bodoh.. tapi danau buatan itu permanen kan ya? dan ngga ada yang salah kan ya dengan danau buatan… di daerah negara tetangga danau buatan juga jadi obyek wisata kok, rame malah.. asal ngelolanya bener dan ngga pake korupsi :D .-= Chic´s last blog ..hidup ini… =-.

  4. Fantastis…. jadi pingin posting danau buatane pak Habibi sing nggo nguripi wong sak Batam…..
    tunggu tgl mainnya.

    BTW…. ruwet juga ya… cuma jika memang mau di preservasi..kayaknya kudu dengan cara yang sangat bijak…
    .-= Xitalho´s last blog ..Sang Jenderal Bengek =-.

  5. ALat berat roto2 kok warnane kuning kuwi kenopo yo Pak…
    Pak Andy wis tau mikir ngono po durung.
    Nek durung saiki wayahe mikir…
    Kok ora ireng ben nambah sangar, utowo abang.
    Nek pink malah wagu, koyo Yamaha Mio.

    (Makibao di cet kuning ketoke tambah sangar…)
    .-= marsudiyanto´s last blog ..Surip vs Gendong =-.

  6. sudah saatnya buldozer dimanfaatkan sesuai fungsinya. kalau utk mengeruk telaga, itu memang bisa diterima. yang tak masuk akal kalau difungsikan utk menggusur dan menggaruk rumah2 para pemukim karena alasan poembangunan. doh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *