Wuwur

ilustrasi ~ gambar dari: www.sragenkab.go.id

Hari Minggu 29/05 tiba-tiba kampungku terasa sepi… (lonely) Selidik punya selidik, ternyata sedang ada kemeriahan di kampung sebelah (masih dalam lingkup satu desa), namun keramaiannya menyedot perhatian seluruh desa.

Beberapa waktu lalu, Kepala Desa di desa saya berhenti karena takdir alias meninggal dunia. Tentu saja mau tidak mau harus segera diadakan Pemilihan Kepala Desa agar kepemimpinan desa tidak lowong. Dan sudah dua bulan ini desaku penuh wuwur (dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai uang atau bantuan materi).  Organisasi-organisasi kemasyarakatan di lingkup kecil misalnya PKK, Dasawisma, Takmir Masjid, RT RW, Karang Taruna, dan organisasi lain di tingkat desa adalah sasaran wuwur yang paling ditargetkan. Undangan-undangan pertemuan baik untuk bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda dan pemudi pun berganti-ganti datang karena calon pimpinan yang akan bertarung saling berlomba wuwur.

Dan puncak kemeriahan adalah hari Minggu ini karena ada salah satu calon yang menggelar keramaian mulai dari pentas dangdut woyo-woyo, lomba memancing gratis berhadiah ikan yang berhasil ditangkap plus hadiah untuk pemenang, jalan sehat keliling kampung berhadiah sepeda gunung, televisi, dan aneka hadiah menarik lainnya, juga diselenggarakan bermacam hiburan.

Ya, walaupun bersendikan demokrasi, tetap saja wuwur menjadi budaya. Bisa jadi, budaya wuwur ini diikuti oleh pesta demokrasi di tingkat yang lebih tinggi misalnya pemilihan kepala daerah, pemilihan wakil rakyat, bahkan sampai ke pemilihan kepala negara. Kali ini yang di tingkat atas mengikuti yang tingkat bawah karena memang jauh sebelum ada pemilihan kepala daerah, pemilihan wakil rakyat, pemilihan presiden secara langsung, sejak dahulu di jaman feodal, kepala desa atau lurah dipilih secara langsung dan demokratis.

Nah, ketika para calon-calon pemimpin melakukan wuwur, banyak pihak yang diuntungkan dan mendapat kegiatan temporer yang menghasilkan. Biasanya mereka menjadi badal atau tim sukses. Banyak pula yang tidak peduli sama sekali memilih jadi golput atau gol-blank.

Saya sendiri tidak begitu peduli dengan siapa yang akan jadi pemimpin. Asalkan bisa menjadi pemimpin yang baik, dlogok bajingan pun saya tak keberatan. Dan bila ada yang mengambil kesempatan untuk ikut melacurkan diri, saya pun menganggapnya sebagai suatu kelumrahan… :-)

Pertanyaannya: Kalau wuwurnya cukup besar sampai jauh di atas kemampuan wajar, pastinya mereka mengharap pulihan. Darimana itu mereka dapatkan??? (thinking)

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

24 thoughts on “Wuwur

  1. Di desa saya, terkadang ada pula serangan fajar, dengan memberikan sejumlah uang pada saat matahari belum terbit kepada masyarakat, agar memilih calon tertentu. Untuk pulihan dana yang dikeluarkan, jika melebihi kemampuan dalam pengeluaran, seringnya ya berputar-putar dalam lingkaran setan. Ujung-ujungnya pasti korupsi. Itu juga sudah jadi tradisi

  2. Asyik memang kang mengamati pesta demokrasi di level terbawah pemerintahan kita ini.. Ada serangan fajar, wuwur, dll.. Terlepas dari itu saya sependapat dengan apa yang mas tulis di akhir postingan ini.. Keluar banyak ya harus memulihkannya.. hehe.. :P

  3. Wis ora ungsum ngenteni pulung seperti cerita jaman dulu
    yang paling menakutkan kalau mau hari H, banyak ‘serangan fajar’ yang tujuannya andum wuwur :D

  4. nah… ternyata sama saja :doh:

    tak jamin yang kalah pasti bakal jadi setres yang menangpun akan ikut stres, stres cari uleh2 hahaha…

  5. Tanthowi Yahya aja bilang, politik kalau gak ada uang gak jalan.. xixixi.. Palagi klo ga salah inget yg saya baca di suatu media, 70% voters di Indonesia tuh pemilih yang pragmatis dan polos.. Ibaratnya akal sehatnya mudah termanipulasi dengan wuwur itu tadi.. Hmm.. kyknya kalau mo demokrasi yang makin dewasa butuh waktu mungkin ratusan tahun lagi.. wkwkwk.. *lebay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *