Yang dekat sini juga perlu dibantu lho!

Merapi sudah mereda dan semoga segera tidur kembali agar banyak orang yang bergantung kepadanya segera bisa beraktivitas seperti sediakala… Namun masih ada pengungsi karena beberapa wilayah masih dinyatakan sebagai daerah berbahaya.

Suatu hari, saya harus mengantarkan sejumlah bantuan dari kawan-kawan di komunitas lama saya untuk pengungsi Merapi. Berhubung banyak kawan saya sudah banyak yang jadi orang, tentunya sikap mereka saat memberi bantuan tak ubahnya seperti pejabat melakukan kunjungan. Saya yang tidak punya kemampuan finansial dan material seperti mereka hanya bisa soroh bahu, urun tenaga menjadi kurir untuk mengantar bantuan menggunakan kendaraan roda lebih dari empat.

Para pejabat ason-ason yang melakukan kunjungan itu sudah siap di beberapa titik di tempat pengungsian di seputar Gunung Merapi, dan saya pun berkeliling mengantarkan beraneka macam barang untuk dibantukan kepada pengungsi dan para ason-ason itu bisa memberikannya kepada banyak orang secara langsung plus dengan sedikit seremonial bilamana diperlukan sekedar untuk narsis dan biar dianggap peduli.

Tapi bukan itu masalahnya…

Saat akan berangkat, saya bersua dengan tetangga saya. Sedikit menyapa dan berbincang, dia menanyakan hendak kemana saya…

“Mau nganter bantuan untuk pengungsi Merapi!”, jawab saya.

“Owalah mas! Kalau mau nganter bantuan nggak usah jauh-jauh. Yang dekat sini juga perlu dibantu lho!”, kata tetangga saya itu.

Mak jleb!!!… (heart_beat) saya tersenyum kecut dan berkilah;

“Anu, saya hanya pengantar dowang kok!”…

Rupanya imbas bencana sampai jauh kemana-mana. Tetangga saya yang bekerja di sebuah proyek perumahan itu, selama beberapa waktu terpaksa menganggur dan bekerja serabutan. Pasir Merapi yang harganya melonjak tinggi selama bencana kemarin membuat banyak pengembang hiatus dan para pekerjanya juga ikut hiatus

Sayangnya. perut tidak bisa diajak hiatus:-(

Post to Twitter Post to Plurk Post to Facebook Send Gmail

Related Posts

21 thoughts on “Yang dekat sini juga perlu dibantu lho!

  1. memang banyak yang masih perlu pertolongan disekitar kita.tapi sayang,kebanyakan kita tak mampu melihatnya atau bahkan enggan untuk melihatnya karena kesibukan.atau yang lebih parah toh kalau membantu gak diekspose.
    (dooh)

  2. Takutnya, di pengungsian merapi nanti atau besok, banyak daging urban yang mubadzir, karena beberapa masjid di sekeliling saya manyiapkan sebagian daging kurbannya untuk dibw ke merapi. Ya kalau dalam bentuk masak dan awet (dibuat abon, misalnya), lha kalau dalam bentuk mentah? Sing masak sapa? Kalau gak segera dimasak, bahaya kan?

  3. Takutnya, di pengungsian merapi nanti atau besok, banyak daging kurban yang mubadzir, karena beberapa masjid di sekeliling saya manyiapkan sebagian daging kurbannya untuk dibw ke merapi. Ya kalau dalam bentuk masak dan awet (dibuat abon, misalnya), lha kalau dalam bentuk mentah? Sing masak sapa? Kalau gak segera dimasak, bahaya kan?

  4. saya juga cuman jadi relawan bagian kuli profesional…

    kalau seperti itu…coba kalo paro donatur itu trus mau berbelok dan menyantuni korban tak langsung Merapi ya. Soal publisitas, bagi yang menginginkannya sih bisa mengandalkan kemampuan Blogger Nasional ini.

    Karena korban tak langsung seperti itu akan sulit dapat bantuan “resmi”.

  5. iya, kadang aneh, kita menolong orang jauh, tapi tetangga/saudara dekat kita luput dari perhatian, padahal menurut nabi, keluarga dan tetangga itu juga punya hak :D

  6. Aku juga mak jleb pas moco.. Bencana besar bisa mengalihkan perhatian dari korban2 yg perlu dibantu di sekitar kita. Dilematis..

  7. Miris, Bantuan dan penyelesaian selama ini hanya pada saat terjadi bencana.. setelah itu semua melupakannya.. bencana sebenarnya bukan pada awal. tapi pada akhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *